Harga Melambung, Cabai Rusak Tetap Laku Dijual

0
415

Probolinggo (wartabromo.com) – Sepekan terakhir, harga cabai rawit di pasar tradisional Kota Probolinggo meroket. Hal itu, membuat sejumlah pedagang terpaksa menjual cabai rawit busuk.

Tingginya harga berimbas pada stok cabai rawit di sejumlah pasar tradisional menipis. Bahkan, di sejumlah lapak pedagang justru menjual cabai yang mulai membusuk.

Seperti yang terpantau wartabromo.com di pasar Baru Kota Probolinggo, pada Kamis (8/3/2018).

Berdasarkan penuturan pedagang, cabai busuk terpaksa dijual karena pasokan dari petani lokal terus berkurang, pasca petani alami gagal panen. Cabai membusuk lantaran terlalu lama berada dalam karung yang di datangkan dari luar kota.

Pedagang membantah, penjualan cabai busuk sengaja dilakukan untuk mengeruk keuntungan berlipat, ditengah lonjakan harga yang terus naik. Mereka juga tak berani mengambil stok cabai dalam jumlah banyak.

“Kulak mahal ya jual mahal, nak. Sekarang gak berani ambil banyak. Kalau harga masih murah, setengah kuintal ya diambil, sekarang nggak,” tutur salah satu pedagang, Sulliyah.

Hingga Kamis siang, harga cabai rawit menebus Rp. 65.000, padahal pada akhir Februari lalu hanya Rp. 26.000 per kilogram. Harga cabai rawit hijau juga naik menjadi RP. 20.000, dari harga awal Rp. 10.000 per kilogram.

Mahalnya harga cabai rawit membuat sebagian warga beralih membeli cabai merah. Karena dianggap lebih awet meski harganya juga mahal. Harga cabai merah di kisaran Rp. 30.000 dengan harga sebelumnya Rp. 20.000 per kilogram. Harga cabai merah kering menembus Rp. 40.000, sedangkan harga lama Rp. 35.000 per kilogram.

Meski kualitasnya kurang bagus, cabai tersebut tetap dibeli oleh warga. Namun, mereka mengurangi jumlah pembelian karena harga mahal.

“Cukup mahal bagi warga, tetapi tetap saya beli karena memang butuh. Biasanya beli sekilo yang merah, sekarang dicampur. Ya kalau bisa turun harga,” kata Ismail, salah satu pembeli di Pasar Baru.

Konsumen maupun pedagang berharap, pemerintah daerah secepatnya menindak para tengkulak nakal yang sengaja mempermainkan harga. Serta membuat kebijakan strategis guna mengembalikan harga komoditas dapur. (fng/saw)