Menapaki Desa “Sandal” di Karangrejo-Gempol

1759
Sandal. Alas kaki yang selalu menjadi teman setia, baik saat di dalam rumah maupun bepergian. Menjadikan sandal untuk mendapat keuntungan? Sangat mungkin, karena bisnis lama ini terbilang menggiurkan, bahkan menjadi andalan usaha warga di Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.

Laporan: Emil Akbar

TEPATNYA di Dusun Karangbangkal, Desa Karangrejo, Kecamatan Gempol, hampir seluruh warganya menjadi pembuat sandal. Tak salah kalau desa ini dinamakan “Desa Sandal”.

Tatik Farikha (42), salah satu warga Dusun Karangbangkal, sudah 21 tahun menggeluti profesi sebagai pembuat plus penjual sandal. Setiap harinya, ia dan sang suami, Ahmad Santoso (48), terjun dalam setiap proses pembuatan sandal. Bersama-sama kegiatan itu dilakoni, mulai dari kulakan bahan hingga packing (mengepak sandal yang sudah jadi).

Selain mereka berdua, ada belasan karyawan lain membantu, dengan sistem kerja borongan. Karyawan-karyawan tersebut tak lain adalah para tetangga sekitar tempat tinggal Tatik, di RT 01/ RW 04.

“Khususnya ibu-ibu yang paling banyak kami pekerjakan,” kata Tatik, di sela-sela mempersiapkan sandal yang akan dikirim ke Gresik, kemarin.

Menjadi pembuat sandal adalah turunan dari orang tua. Dulu, sang ayah (alm Sutomo) adalah pembuat sandal popular di Gempol, sehingga sayang bila ia tidak meneruskannya.

“Karena sangat menjanjikan dan bisa kerja di rumah, tanpa meninggalkan kewajiban sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anak,” katanya.

Untuk membuat sandal berkualitas dan menarik, Tatik tak kerepotan, meskipun bahan dasarnya adalah spon bekas yang dibelinya dari salah satu pabrik di Gempol. Harganya pun murah, yakni Rp 7500 untuk 1 kilogram, sehingga dirinya pun membeli dalam jumlah banyak, disesuaikan dengan jumlah pesanan yang datang.

Ia tidak pernah menjual ke pasar secara langsung, karena produk miliknya lebih banyak berupa pesanan dalam jumlah besar, datang dari Gresik, Pasuruan, Mojokerto, hingga Batam, bahkan Ujung Pandang.

“Gak sempat kalau jual ke pasar karena kita sudah kewalahan menerima pesanan, karena pegawainya kurang banyak hehehe. Susah nyari karyawan, karena kebanyakan tetangga kami adalah para ibu-ibu atau remaja-remaja yang memang belum bekerja atau kerja sampingan,” ungkap dia.

Sandal yang dibuat oleh Tatik adalah sandal khusus untuk anak-anak dan perempuan. Setiap sandal dihargai sesuai dengan jenis. Contoh sandal yang banyak dipesan sekarang adalah sandal ubur-ubur dan sandal OP, yang dipatoknya dengan harga Rp 7.500 dan Rp 6.000. Saat ditanya pesanan paling banyak, saat ini, Tatik tengah menyelesaikan 300 kodi sandal yang akan dikirim ke Batam dan Ujung Pandang.

“Satu kodi isinya 12 pasang dan kami jual dengan harga Rp 320.000 per satu kodi. Jadi total Rp 96 juta untuk sekali pesan. Lumayanlah mas, bisa buat tabungan anak dan bayar karyawan maupun beli alat,” beber Tatik sembari mengepak sandal pesanan.

Sementara itu, saat ditanya seputar omset, Tatik tak berani menjelaskan, lantaran tergantung dari banyaknya pesanan. Rata-rata, setiap minggunya dirinya bisa meraup keuntungan bersih Rp 2 juta.

“Kalau sebulan bisa Rp 8 juta sampai Rp 10 juta. Pokoknya kalau pesanannya membludak seperti sekarang ini, ya bisa lebih,” pungkas Tatik. (*)