Dari Pantauan Gizi, ada 33,4% Bayi di Kota Pasuruan Terdeteksi Stunting

2084
Ilustrasi balita dan postur tubuh. Sumber gambar: Kemenkes RI

Pasuruan (wartabromo.com) – Survey Pemantauan Status Gizi (PSG) temukan 33,4% bayi di Kota Pasuruan terdeteksi stunting. Angka itu diperoleh dari pengambilan sampel sebanyak 246 bayi.

Survey PSG ini dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, pada periode Mei 2017. Pemantauan dilakukan oleh tenaga ahli kesehatan, dengan mengambil 30 cluster (titik pantau) di Kota Pasuruan.

“Pemantauan dilakukan di 30 titik pantau yang diambil secara acak. Ada kira-kira 343 bayi yang disurvey. Cuma kita cleaning, jadi cuma 246 bayi,” jelas Hartanto, Kabid Kesmas Dinkes Kota Pasuruan, Sabtu (15/9/2018).

Dijelaskan kemudian, 1 titik pantau survey diambil random sedikitnya 10 bayi. Sehingga jumlahnya mencapai tiga ratusan bayi, yang diperiksa status gizinya.

Hartanto melanjutkan, dari 246 bayi yang disurvey berdasarkan pantauan gizi itu, kemudian ada 82 atau setara 33,4% bayi terdeteksi stunting.

Deteksi stunting tersebut kemudian dirinci, dari jumlah bayi pendek sebanyak 58 bayi (23,6%) dan bayi sangat pendek ada 24 bayi (9,8%).

Di sisi lain, Dinkes Kota Pasuruan pada bulan timbang Agustus 2017 lalu mencatat, sebanyak 2.696 bayi terdeteksi stunting. Jumlah itu diperoleh dari catatan stunting di 8 puskesmas, yang tersebar di empat Kecamatan wilayah Kota Pasuruan.

Baca juga: Bayi dengan Stunting Rentan Terserang Penyakit Degeneratif

Rendahnya pemahaman masyarakat akan stunting, dinilai menjadi salah satu faktor penyebab, tingginya prevalensi stunting di Kota Pasuruan. Menurut Hartanto, memperbaiki perilaku warga Kota Pasuruan untuk hidup sehat tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu waktu yang lama untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya stunting (bayi pendek).

“Stunting itu, akibat ibu hamil yang kurang asupan gizi, termasuk makan buah dan sayur, anemia, sampai kondisi lingkar lengan atas ibu hamil kurang dari 23,5 cm,” tandasnya. (trl/ono)