Lempuk Ranu Grati Cocok di Lidah Orang Luar Negeri

1722
Beberapa bule asyik menikmati lempuk krispi khas Grati di sebuah tempat di Australia. Foto: Aisah untuk WartaBromo
“Orang-orang luar negeri suka ikan lempuk, karena rasanya sangat gurih dan bentuknya yang unik, selain memang baik untuk kesehatan.”

Laporan Ardiana Putri

JIKA Anda mengunjungi obyek wisata Danau Ranu di Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, mungkin Anda akan menemui lempuk. Bisa berupa ikan lempuk mentah maupun dalam bentuk produk olahannya.

Lempuk merupakan ikan yang hanya bisa hidup di Ranu Grati dan Jepang. Tapi menurut pembudidaya ikan di Ranu Grati, lempuk di Jepang warnanya lebih gelap dan rasanya tidak segurih di Grati. Ikan mini berukuran 3-4 sentimeter ini memiliki kadar protein tinggi, yang baik untuk pertumbuhan anak.

Produk olahan Ikan Lempuk Khas Grati kini mulai bermunculan. Beberapa UKM telah mengembangkan bisnis produk olahan lempuk. Salah satunya Siti Aisah.

Berawal dari hobi memasak dan keinginan memaksimalkan potensi lempuk yang hanya dapat hidup di Grati, Aisah mengelola bisnis pengolahan lempuk. Mulai lempuk krispi, pepes lempuk, krupuk lempuk, hingga nugget lempuk.

Bertahun-tahun merintis pengolahan lempuk, baru 1,5 tahun kemudian, Aisah mendapat pengakuan atas eksistensinya berbisnis lempuk. Dapat dikatakan, bisnisnya sekarang sudah professional. Bahkan tembus hingga pasar Amerika.

“Sekarang sudah ada pesanan dari Australia, Hongkong, Korea, Dubai, Belanda bahkan sampai ke Equador,” terangnya.

Menurutnya, orang-orang luar negeri suka, karena rasanya sangat gurih dan bentuknya yang unik, selain memang baik untuk kesehatan.

“Rasanya memang medok (khas), tapi masih dapat diterima orang-orang luar negeri,” ucap Aisah.

Sebelum sukses di luar negeri, lempuk Aisah yang sering dipesan untuk agenda DPR RI ini, tidak serta merta berjalan mulus. Ibu dua anak ini pernah pula merasakan pahit getirnya mengelola bisnis ini. Mulai dari susahnya memasarkan produk, lamanya mengurus perizinan PIRT, hingga penolakan-penolakan dari beberapa customer.

Namun, Inovasi terus dilakukan agar usahanya ini dapat diterima dengan baik di pasaran.

“Saya terus mencari cara agar bisa menghilangkan bau amisnya, setelah beberapa kali percobaan akhirnya saya berhasil,” tandasnya.

Ia tak pelit berbagi rahasia tentang kunci kesuksesannya. Menurutnya, cara agar ikan lempuk tak amis bukan diberi perasan jeruk, tapi dicuci dengan air mengalir sampai busa dari ikan lempuk hilang.

Minimal memproduksi 15 hingga 30 kilogram perhari, Aisah memasarkan sendiri produknya via online. Menurut pengakuannya, hingga saat ini ia belum didampingi oleh Dinas Koperasi kabupaten dalam hal pemasaran. (*)