Yati, Ajak Anak-anak Berliterasi Sejak Dini di Rumah Baca Fanelia

821
Catur Hayati (40) atau yang akrab disapa Bu Yati, pegiat literasi untuk anak, asal Kota Pasuruan.
Berliterasi tak melulu tentang kegiatan membaca. Lebih dari itu. Melalui permainan edukatif, Yati ingin melatih anak-anak agar mampu berpikir kritis dan kreatif.

Laporan: Ardiana Putri

BERAWAL dari kecintaannya terhadap dunia anak-anak, Catur Hayati (40) atau yang akrab disapa Bu Yati, merelakan sebagian ruangan di rumahnya, digunakan untuk tempat memajang buku di rak-rak miliknya, yang kebanyakan adalah buku anak. Tak banyak memang koleksi buku yang dimiliki Yati, namun dirinya tetap bertekad untuk menghadirkan tempat menarik dan menyenangkan untuk anak-anak di sekitar kampungnya.

Sekitar Februari 2018 lalu, Yati mendirikan sebuah rumah baca di rumahnya Jalan Panglima Sudirman No. 26 Kebonagung Purworejo Kota Pasuruan. Yati menyebutnya, Rumah Baca Fanelia.

“Tak muluk-muluk, saya hanya ingin memberi kesempatan anak-anak untuk bermain dan belajar bersama di sini,” kata Yati.

Rumah Baca Fanelia, ia dirikan, bukannya tanpa alasan. Beberapa tahun lalu ia bertemu dengan seorang tukang becak di Semarang. Ia bercerita, tukang becak yang ditemuinya itu selalu membawa beberapa buku, yang diletakkan di belakang becaknya. Sembari menunggu penumpang, tukang becak tersebut selalu menyempatkan untuk membaca buku yang dibawanya.
Itu yang akhirnya membuat Yati terinspirasi untuk membuka sebuah rumah baca.

“Setelah melihat semangat dari tukang becak yang saya temui kala itu, saya jadi punya semangat untuk melakukan hal yang sama di Pasuruan,” ungkapnya.

Dengan mendirikan Rumah Baca Fanelia, tujuan Yati hanya satu. Menularkan energi dan semangat cinta membaca, terutama untuk anak-anak di sekitar kampungnya itu. “Ya minimal anak-anak ini akrab dululah dengan buku,” lanjut Yati.

Ibu asal Surabaya ini tak henti-hentinya berusaha untuk terus berinovasi, agar anak-anak yang datang ke Rumah Baca Fanelia tetap bersemangat, terus membaca. Di rumah bacanya tersebut, Yati tak sekadar menyediakan buku-buku saja. Ia juga menyuguhkan berbagai permainan tradisional, seperti egrang, sandal bathok, ular tangga, dan beberapa permainan edukatif lainnya.

Baginya, berliterasi memang tak melulu tentang kegiatan membaca. Lebih dari itu, ia bilang. Melalui permainan edukatif yang ia ciptakan, Yati ingin melatih anak-anak ini agar mampu berpikir kritis dan kreatif.

Beberapa kali, Yati menggelar lapak buku di berbagai kesempatan. Biasanya, buku-buku koleksinya itu ia gelar di GOR Sultan Agung, saat Car Free Day. Tentunya bukan untuk dijual, namun untuk dibaca secara gratis oleh masyarakat umum.

“Seringkali saya ditanya orang-orang tentang apa yang saya dapatkan dari yang saya lakukan ini. Saya hanya mampu menjawabnya dengan senyuman,” ujar Yati sambil lontarkan senyum.

Ia menganggap, kegiatan yang dilakukan selama ini memang tak menguntungkan secara finansial. Namun, batinnya terpuaskan hanya dengan melihat senyuman yang menyungging di bibir anak-anak, kala mereka membaca buku atau sekadar bermain di Rumah Baca Fanelia.

Selain koleksi pribadi Yati, buku-buku yang ada di Rumah Baca Fanelia didapat dari beberapa donatur. Pernah pula ia mendapat donasi buku dari Perpustakaan Kota Pasuruan.

Dedi Suryadilaga, kawan Yati yang juga seorang pustakawan di Perpustakaan Kota Pasuruan mengaku takjub dengan apa yang dilakukan Yati. Menurutnya, tak banyak pejuang literasi seperti Yati di kota kecil ini.

“Sangat inspiratif, kita sebenarnya perlu orang-orang seperti Bu Yati untuk menghidupkan geliat literasi di Pasuruan ini, untuk rumah bacanya itu beliau rela mengeluarkan dari kocek pribadinya lho,” ungkapnya. (*)