Perias Jenazah itu Bernama Djoewaras

10978
Djoewaras, ketika ditemui di tempat kerjanya, Budi Dharma Kota Pasuruan. Foto: M Asad.
Apa yang kamu pikirkan jika mendengar kata ‘perias jenazah’? serem, ngeri, merinding dan hal lain yang menyeramkan. Namun tidak dengan Djoewaras. Wanita berusia 74 tahun ini, bukan sembarang perias, melainkan perias jenazah.. Sudah puluhan tahun, pekerjaan mendandani orang yang sudah tak bernyawa, dilakoninya.

Laporan Salsabelah Cahyani

WARAS, wanita ini biasa disapa, mengaku tak sengaja, tiba-tiba geluti profesi perawat sekaligus perias jenazah di Budi Dharma, salah satu yayasan di Kota Pasuruan, yang bergerak di jasa  pemulasaran orang meninggal.

Nenek yang tercatat sebagai warga Kelurahan Petamanan, Kota Pasuruan itu awalnya bertugas di bagian administrasi. Namun, pada tahun 1988, rekan kerjanya yang biasanya merawat jenazah meninggal. Masalahnya, rekan lainnya tak ada yang berani merawat jenazah.

“Akhirnya, ya saya yang disuruh menangani. Dan keterusan sampai sekarang,” ucap Waras.

Sebagai perawat orang meninggal, ia membantu memenuhi semua kebutuhan jenazah. Mulai dari memandikan, merias jenazah sebagus mungkin bak pengantin, kemudian memasukkan jenazah ke dalam peti.

‘Jika keluarga menghendaki untuk dikuburkan, maka, peti berisi jenazah itu dibawa pemakaman. Tetapi, ketika keluarga meminta untuk dikremasi, jenazah akan dibawa ke krematorium untuk kemudian abunya dibuang ke laut,” terangnya.

Selama menjalani profesi unik ini, Waras mengaku tidak pernah merasa mendapat “teror hantu”, seperti sebagian besar orang yakini. Namun, ada kejadian di luar nalar yang sering ia alami. Salah satu kejadian yang sering ia alami adalah suara laci yang seakan menandakan akan ada jenazah yang datang.

“Laci di lemari ini (sambil menunjuk lemari kabinet di sudut ruangan kantor) glodak, begitu,” menirukan suara tanda laci.

Pengakuan Waras ini sebenarnya banyak yang tidak percaya. Tapi, setiap kali laci itu bersuara, maka tak berapa lama kemudian, ada jenazah yang datang. Dan, kejadian janggal seperti itu tetap ditanggapi sebagai hal biasa olehnya.

Nah, ketika yang meninggal merupakan korban kecelakaan atau pembunuhan, ia harus memberikan perlakuan khusus, karena umumnya kondisi jasadnya tidak sempurna.

Untuk keperluan itu, ia terpaksa memanggil perawat dari rumash sakit agar membantu menjahit luka atau bagian tubuh yang terpisah agar terlihat utuh. Setelah itu, barulah Waras bertugas memoles dan memakaikan baju sesuai permintaan keluarga.

Prinsipnya, tak ada perlakuan berbeda terhadap para jenazah yang ia rawat. Baginya, beberapa agama mempercayai, bahwa kematian itu bagian dari perjalanan hidup manusia.

Mati, dianggap sama dengan menghadap pencipta, memasuki kehidupan baru. Jadi, iapun berkeyakinan, orang yang meninggal, harus dibuat rapi, bersih, ganteng, dengan pakaian yang bagus.

“Tapi, ketika yang meninggal adalah seorang lajang, di atas peti matinya diberi kembang mayang sebagai tanda,” imbuhnya.

Di sela-sela perbincangan mengenai pekerjaannya, Waras juga menceritakan duka sebagai perawat jenazah yang tak mengenal waktu itu. Terkadang, dirinya sampai harus mengorbankan waktunya bersama keluarga, tatkala tiba-tiba ada orang meninggal yang membutuhkan jasanya.

Melakoni profesi tak biasa ini, Waras mengaku selalu mencoba menikmati pekerjaan. Apapun, selama itu Halal dan tidak merugikan orang lain, ditegaskannya harus ditunaikan. Belum terbesit di benaknya untuk mencari pekerjaan lain. Selama masih sehat dan kuat, Waras akan tetap menjalani profesi ini.

Baginya, profesi ini membuatnya ingat akan kematian. (*)