Kripik Singkong Kotaanyar Rambah Jawa-Bali

2150
Wilayah Kabupaten Probolinggo dikenal mempunyai tanah yang gembur. Sehingga segala tanaman tumbuh dengan subur, salah satunya pohon singkong. Salah satu daerah yang terdapat budidaya singkong adalah Kecamatan Kotaanyar. Pemasarannya sudah menjangkau Pulau Jawa-Bali.

Laporan : Muhamad Choirul Efendi.

DARI 13 desa di Kecamatan Kotaanyar, saat ini sudah ada 2 desa yang menjadi sentra kuliner olahan singkong. Pertama sentra keripik singkong di Desa Kotaanyar dan olahan tape singkong di Desa Curahtemu. Kripik singkong bahkan pemasarannya cukup sukses, hingga menembus pasar Jawa-Bali.

Salah satu pelaku usaha yang sukses adalah Sudiya Eli Ermawati alias Bu Anggi (38). Bersama suaminya, Mohamad Syafii (45), menekuni pembuatan keripik singkong sejak 1998 lalu. Ia merupakan salah satu dari 7 pengusaha keripik singkong di Dusun Gasal, Desa Kotaanyar.

Anggota kelompok usaha bersama Gasal Makmur ini, mendapat keahlian membuat keripik singkong dari Ibu Sami (70) dan Sukarno (alm), orangtuanya.

“Tapi saya dan ibu usahanya terpisah. Sekarang ibu saya masih membuatnya juga. Jadi usaha ini sudah turun temurun,” tuturnya.

Ia pun bercerita, pada awalnya usaha yang dimilikinya kembang kempis. Hasilnya cukup untuk makan sehari-hari saja. Namun setelah mendapat pendampingan dari pemerintah, usahanya berkembang pesat. Saat ini, dengan 15 karyawan, ia mampu menghabiskan 500 kilogram singkong untuk dijadikan keripik. Singkong itu, selain dari Kecamatan Kotaanyar, juga dipasok dari Kecamatan Pakuniran, Tiris, Gading dan Krucil.

Setelah diolah, menjadi 160 kilogram keripik singkong siap konsumsi. Oleh Sudiya, keripik itu dibungkus dalam 2 ukuran. Yakni ukuran 1,5 ons seharga Rp. 3.500 per bungkus. Kemudian ada yang dibungkus secara rentengan dengan harga Rp. 4.000 per renteng berisi 10 bungkus kecil.

Dalam sebulan omsetnya mencapai sekitar Rp. 102 juta.

“Itu hanya hitung-hitungan diatas kertas. Selain terkendala pasokan singkong, kami juga diganggu oleh cuaca di musim penghujan,” tutur ibu 2 anak itu.

Sudiya mengaku tak kerepotan dalam segi pemasaran. Sebab ada 6 sales makanan yang menjadi pelanggan tetapnya.

“Semua pengusaha keripik disini sudah punya langganan sales masing-masing. Ada yang ke Surabaya, Madura dan ada yang ke Bali. Jadi tidak khawatir lagi untuk pemasarannya,” ungkap lulusan SMP ini.

Kuliner itu sebenarnya sudah ada sejak puluhan tahun lalu, namun oleh pemerintah daerah, dipoles agar mampu bersaing di pasaran. Semisal pembinaan hiegienisitas atau kebersihan, ada pula pelatihan packing dan sablon bungkus. Sehingga lebih menarik dan diburu konsumen.

“Kami mensinergikan potensi yang sudah ada dengan program-program dinas terkait, semisal Disperindag, Dinas Koperasi dan UKM, serta dinas lainnya. Sehingga ada nilai tambah, ada perubahan tampilan, dengan tujuan agar mereka eksis dan berkembang lebih besar. Dengan begitu akan menyerap tenaga kerja lokal lebih banyak lagi,” kata Camat Kotaanyar, Ponirin.

Ia mengatakan, dalam membina potensi desa, tak bisa dilakukan secara sporadis. Namun, dilakukan step by step. Artinya UKM yang dimiliki warga diverifikasi potensinya. Kemudian dilakukan pendampingan agar usaha itu bisa berkembang dan maju. Setelah mandiri, maka UKM itu dilepas. Kemudian pemerintah melakukan pendampingan pada UKM yang lainnya.

“Kami juga menghubungkan mereka dengan dunia perbankan, untuk solusi permodalan dalam mengembangkan usahanya. Serta mendorong pekerja di sentra-sentra kuliner itu membentuk koperasi. Tujuannya agar mereka bisa berorganisasi dan mempunyai manajemen yang kuat,” ujar pria yang berdomisili di Desa Tegal Mojo, Kecamatan Tegal Siwalan ini.

Lebih lanjut, Ponirin menerangkan pihaknya akan menginstruksikan sebagian dana desa supaya. terserap untuk program pemberdayaan masyarakat desa. Sasaran utama adalah embrio – embrio usaha kecil yang saat ini sudah mulai tersebar di wilayah kerjanya.

“Tercatat sudah 6 desa yang sudah memiliki pengusaha kecil menengah. Kesemuanya mampu menyerap tenaga kerja lokal,” tanda Ponirin. (*)