Pakai Gas Bumi, Biaya Produksi Bisa Dipangkas

797
SIBUK BEKERJA : Sejumlah pekerja tengah memasang pipa gas bumi di Jl Ahmad Yani, Kota Pasuruan. Pelaku industri mulai menanggalkan sumber energi konvensional, beralih ke gas bumi, untuk memangkas biaya. Foto: Tuji Hartono.

Pasuruan (wartabromo.com) – Kampanye energi ramah lingkungan oleh pemerintah, sepertinya mendapat sambutan kalangan industri. Di Pasuruan, sejumlah pelaku industri mulai menanggalkan sumber energi konvensional dan beralih ke gas bumi, untuk memangkas biaya produksi.

Manajer Engineering PT. MJB Pharma A. Samsul mengatakan, sebelumnya, pihaknya menggunakan solar untuk menghidupkan mesin boiler di perusahaannya. Tetapi, kini telah beralih, mulai menggunakan gas. “Ya, selain lebih hemat, juga lebih bersih dan ramah lingkungan,” kata Samsul.

Sebagai perbandingan, untuk 1 liter solar industri, pihaknya membeli di harga Rp 9 ribu. Sedangkan gas yang dipasok PGN (Perusahaan Gas Negara) Tbk, pihaknya cukup mengeluarkan Rp 4 ribu untuk setiap meter kubiknya. “Padahal, energi untuk 1 liter solar, itu tidak sampai 1 meter kubik gas. Artinya, kan lebih hemat,” jelasnya kemudian.

Samsul menuturkan, dalam sebulan, pemakaian gas rerata mencapai 30-40 1ribu meter kubik. Dengan harga yang jauh lebih murah ketimbang solar, setidaknya, ia bisa memangkas biaya produksi hingga separo lebih dibanding ketika masih memakai solar.

PT. MJB Pharm bukan-satu-satunya perusahaan yang memutuskan untuk menggunakan gas sebagai bahan bakar industri. Data PGN Area Pasuruan, dalam beberapa bulan terakhir, tercatat sejumlah perusahaan melakukan hal yang sama. Diantaranya, PT. Serba Gurih Indonesia (SGI), produsen permen jahe, PT. Rajawali Cakra Sakti, dan beberapa perusahaan lainnya.

Direktur Utama PT. Rajawali Cakra Sakti, Randy Setiawan mengatakan, sebelumnya pihaknya memakai batubara sebagai bahan bakar untuk mesin pewarna benang. Namun, karena dinilai kurang ramah terhadap lingkungan, pihaknya beralih untuk menggunakan gas bumi. “Secara ekonomis, mungkin tidak jauh beda ya. Tapi, kalau pakai gas kan lebih bersih,” ujarnya. Rendy berharap, dengan menggunakan gas, kapasintas produksi bisa lebih ditingkatkan.

Terpisah, Sales Head Area PGN (Perusahaan Gas Negara) Tbk, Agus Musthofa Hadi mengatakan, dengan banyaknya perusahaan yang ada di Pasuruan, peluang penyaluran gas masih cukup terbuka. Apalagi, dari 1 300 perusahaan yang ada, baru sebagian kecil yang telah menggunakan gas bumi.

Untuk mewujudkan hal itu, pihaknya pun intens menjalin komunikasi dengan para pihak, agar kampanye penggunaan energi baik dan ramah lingkungan ini bisa diterima. “Kami juga aktif melakukan komunikasi dengan pemerintah dan juga pengelola kawasan industri untuk bersama-sama menggunakan gas yang memang lebih ramah lingkungan daripada energi lainnya,” tutur Agus.

Saat ini, Jawa Timur termasuk provinsi dengan jumlah pelanggan gas paling banyak secara nasional, setelah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Totalnya mencapai 53.956 pelanggan. Rinciannya, Surabaya sebanyak 42.699 pelanggan; Sidoarjo, 10.784 pelanggan; serta Pasuruan, dengan 473 pelanggan.

Menurut Agus, jumlah tersebut akan bertambah menyusul dilaksanakannya proyek pembangunan jaringan gas (jargas) rumah tangga di Pasuruan dan Probolinggo. Untuk kedua wilayah ini, total tambahan pelanggan nanti bisa mencapai 11 ribu sambungan lebih.

“Untuk Pasuruan saja, nanti ada tambahan 6 ribu lebih,” lanjutnya.

Secara nasional, PGN sudah mengalirkan gas kepada 1.730 pelanggan industri dan pembangkit listrik; 1.964 pelanggan komersil seperti hotel dan restoran. Selain itu, PGN juga telah mengalirkan ke pelanggan rumah tangga yang tersebar di 19 kota di 12 provinsi di Indonesia dengan jumlah 300 ribu rumah (sampai akhir tahun, Red). (ono/ono)