Pernah Dilecehkan Guru, Ajak Teman Sebaya Lawan Kekerasan terhadap Perempuan

1153
Shania Indira Putri (16) saat menjadi pembicara dalam peringatan Hari Anak Perempuan Internasional di Jakarta. Foto: istimewa
“Pelecehan terhadap perempuan tidak akan pernah terselesaikan jika korban hanya diam, sudah saatnya korban berani bicara agar tak semakin banyak pelecehan dilanggengkan. Dan lagi, tak perlu menjadi perempuan untuk mengerti apa yang dirasakan korban,”

Laporan: Ardiana Putri

SHANIA Indira Putri (16), tengah gencar menggaungkan tagar #hearmetoo lewat sosial media. Tagar ini ia sebarkan sebagai bentuk dukungan kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan yang jatuh pada 25 November hingga 10 Desember.

Ia menyebarkan pamflet-pamflet dan video di sosial media dan berusaha menyampaikan upaya positifnya itu, kepada kawan-kawan di komunitasnya.

Bagi remaja yang juga pengurus Forum Anak Kota Pasuruan ini, apapun bentuk kekerasan seksual yang dialami perempuan harus diungkap, agar tak ada lagi ruang toleransi bagi pelaku kekerasan.

Tagar #hearmetoo akan membuka mata pembaca, bahwa para penyintas kekerasan butuh didukung dengan mendengarkan cerita mereka tanpa menyalahkannya.

“Pelecehan terhadap perempuan tidak akan pernah terselesaikan jika korban hanya diam, sudah saatnya korban berani bicara agar tak semakin banyak pelecehan dilanggengkan. Dan lagi, tak perlu menjadi perempuan untuk mengerti apa yang dirasakan korban,” ujarnya, Jumat (30/11/2018).

Remaja yang akrab disapa Shania ini pernah mengalami peristiwa kelam dalam hidupnya. Saat masih duduk di Sekolah Dasar, ia pernah mendapatkan pelecehan seksual dari gurunya. Kejadian pahit ini langsung ia laporkan pada guru dan orang tuanya kala itu.

Pada saat itu, ia beranggapan sikap yang dilakukan guru agama terhadapnya itu tidak terlalu berbahaya. Namun ia cukup merasa risih.

“Saat itu saya dipanggil guru agama saya. Lantas dia mencium kedua pipi saya. Tapi saya hanya diam saja dan setelah itu saya langsung cerita pada guru. Kejadian tak mengenakkan itu beberapa kali dilakukannya pada saya. Setelah peristiwa itu terungkap, guru agama itu kemudian dikeluarkan dari sekolah,” ungkap Shania menceritakan pengalaman pahitnya.

Oleh sebab itulah, siswi kelas 11 MIPA SMA Negeri 1 Pasuruan ini ingin mengajak kawan-kawan sebayanya, untuk berani bersuara dan tidak boleh menganggap remeh bentuk pelecehan sekecil apapun. Ia meyakini, jika tak bisa melakukan hal besar, minimal ia harus memulainya dari hal-hal sederhana seperti kampanye lewat sosial media sebagai bentuk penolakan kekerasan terhadap perempuan.

Tak pelak, remaja yang aktif di berbagai komunitas dan organisasi ini mendapat tanggapan negatif. Orang-orang seakan memicingkan mata terhadap apa yang dilakukan remaja ini.

“Banyak juga yang menganggap apa yang saya lakukan ini hanya iseng semata, tak ada manfaatnya. Namun saya tetap berjuang tanpa memikirkan hal tersebut,” ungkapnya.

Banyak memang yang tak menggubrisnya, namun tak sedikit pula yang ingin melakukan hal yang sama sepertinya, mengampanyekan anti kekerasan terhadap perempuan. Hal itulah yang membuat batinnya merasa puas, karena ia berhasil menebarkan hal positif.

Sekitar sebulan lalu, tepatnya tanggal 14 Oktober 2018 di Jakarta. Ia didapuk menjadi salah satu pembicara dalam peringatan Hari Anak Perempuan Internasional. Dalam kesempatan itu, ia berdialog mengenai strategi menciptakan kota aman untuk anak perempuan. (*)