Melirik Perjalanan “Kampung Pia” di Gempol

2747
Bisnis yang melejit ini tidak serta merta langsung mendapatkan pasarnya. Namun dibutuhkan kerja keras yang ekstra.

Laporan : Emil Akbar

DIANTARA banyaknya jenis oleh-oleh khas Pasuruan, rupanya pia memiliki pasarnya tersendiri. Buktinya, “Kampung Pia” di Dusun Kauman Baru, Desa Gempol, Kabupaten Pasuruan, semakin penuh dengan berbagai macam makanan jenis pia dan bolen.

Di Kampung ini, hampir setiap rumah dapat menghasilkan pundi-pundi karena disulap jadi Home Industri. Salah satunya Pia Mami yang sudah memiliki banyak pangsa cukup besar. Wahyu Elizabeth Yunita (41), pemilik usaha ini mengaku dalam sehari bisa memproduksi pia sebanyak 1.500 kg atau 1,5 ton

Banyaknya pesanan pia yang diproduksi ternyata tak lepas dari inovasi varian rasa yang beragam. Mulai dari pia dengan rasa original, kacang hijau, cokelat, nanas, tape, pisang cokelat. Home produksi ini juga memudahkan pembeli, karena menyediakan paduan 5 varian rasa tersebut, yang dijadikan satu dalam kardus kotak berukuran 20X10 cm.

“Paling special adalah pia rasa durian dan original karena memang enak dan harganya juga tidak mahal,” kata Elizabeth saat ditemui di tempat usahanya, Jumat (30/11/2018) siang.

Perempuan ini mengaku, satu kotak, berisi 10-12 pia dijual dengan harga hanya Rp 9.500. Sementara untuk ukuran bolen (sejenis pia dengan ukuran lebih besar) dijual dengan harga Rp 25.000 – Rp 27.500.

Harga yang begitu murah, membuat Elizabeth kuwalahan dengan banyaknya pesanan yang datang setiap harinya. Mulai dari tetangga sekitar sampai beberapa kota/kabupaten di Jawa Timur seperti Malang, Surabaya, Madura, Mojokerto, Probolinggo dan Pasuruan. Bisnis yang melejit ini tidak serta merta langsung mendapatkan pasarnya. Namun dibutuhkan kerja keras yang ekstra.

“Alhamdulillah, saya percaya kalau kita bekerja keras disertai doa, maka Allah SWT akan memberikan apa yang kita minta, di situlah saya terus berusaha untuk mengembangkan bisnis ini,” ucapnya sembari menunjuk ke arah pia yang baru saja dikeluarkan dari mesin oven.

Sampai saat ini, Elizabeth sudah memiliki total 100 karyawan dengan tugas masing-masing. Mulai dari memilih tepung terigu sampai proses akhir, yakni packing kemasan. Seluruh proses produksi diawasinya sendiri bersama sang adik ipar, Prihatin Wahyu (41).

“Kebetulan adik ipar juga sudah bertahun-tahun sama saya membesarkan pia mami ini. Selain di sini, saya juga punya satu tempat lagi, dan rencananya di samping saya akan diperluas supaya pembeli juga leluasa untuk berlama-lama di sini,” ungkapnya.

Biasanya, permintaan pia terbanyak untuk keperluan hajatan (orang menikah, sunatan) sebagai souvenir atau buah tangan, dan dibeli oleh sales-sales yang akan menjualnya kembali ke pelanggannya.

“Paling banyak ke Pasar Kembang Surabaya kalau di Jawa Timur. Sekarang sudah merambah ke Jakarta juga, cuma masih ngitung untung ruginya, karena banyak persyaratan dan ini itu yang akhirnya membuat saya mikir lagi untuk merambah jaringan di sana,” jelas dia.

Bisnis ini pun membuat Elizabeth mendapatkan keuntungan berlimpah. Ia pun bisa menggaji pegawai sesuai pekerjaannya, melanjutkan pendidikan anak dan memperluas usaha yang dirintis sejak tahun 2010 lalu.

“Hahahaha, yang penting semuanya lancar mas, mau beli ini bisa, beli itu bisa, dan karyawan gajinya tidak pernah telat,” tutupnya dengan tertawa. (*)