Konselor Minim, Kasus HIV/AIDS di Kota Pasuruan Cenderung Meningkat

665
Sosialisasi HIV/AIDS kepada masyarakat yang digelar Komisi Penanganan Aids Kota Pasuruan, di sebuah rumah makan, Senin (3/12/2018). Foto: Ardiana Putri.

Pasuruan (wartabromo.com) – Angka penderita HIV/AIDS di Kota Pasuruan, beberapa waktu terakhir mengalami tren peningkatan. Namun, keberadaan konselor HIV/AIDS, terbilang masih minim.

Dari data tahun 2018, konselor HIV hanya ada dua. Padahal, pendamping penderita HIV itu, tak harus berasal dari kalangan petugas medis, kalangan masyarakat umum pun dapat berpartisipasi, tergerak menjadi konselor.

Seorang konselor, dr. Dharmayanti, sekaligus dokter Puskesmas Trajeng mengakui sulitnya menemukan konselor HIV/AIDS. “Syaratnya harus sudah berusia di atas 18 tahun dan pandai membaca dan menyampaikan kondisi psikologis penderita HIV/AIDS yang menjadi clientnya,” terang Dharmayanti saat ditemui dalam acara sosialisasi HIV/AIDS, Senin (3/12/2018).

Stop HIV/AIDS.

Ia menambahkan, selain sudah mendapatkan pelatihan oleh dinas kesehatan dari provinsi, konselor harus mampu menempatkan dirinya sebagai orang terdekat dari ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) atau pengidap HIV/AIDS. Dengan begitu, ODHA mampu menyampaikan keluhan dan kondisi psikologisnya tanpa mengkhawatirkan kerahasiannya akan bocor.

Tindakan medis sebagai upaya pencegahan dan pengobatan terhadap kasus HIV/AIDS sangat penting dilakukan. Konselor HIV/AIDS, dinilai memiliki peran vital di sini.

“Konselor kan penyambung lidah, apabila penderita tak mampu berbicara karena tekanan psikologis, kepada petugas medis,” tambahnya.

Sementara, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Pasuruan, Agus Wijanarko membenarkan jika konselor HIV/AIDS dari pemerintah masih sangat minim. Ia pun berharap agar ke depannya semakin banyak relawan konselor HIV/AIDS.

Dalam acara sosialisasi HIV/AIDS kepada masyarakat yang digelar Komisi Penanganan Aids Kota Pasuruan, hari ini, menurutnya beberapa peserta tertarik menjadi konselor. Hal ini juga ditanggapi Agus sebagai respons positif.

“Nantinya kami akan menyosialisasikan lagi kepada mereka yang tertarik menjadi konselor, karena konselor wajib mengikuti pelatihan khusus yang hanya dilaksanakan pemerintah provinsi,” ungkapnya.

Sekedar diketahui, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pasuruan catat 25 kasus HIV/AIDS sejak Januari hingga Oktober 2018. Angka itu mengalami tren peningkatan dibandingkan pada periode yang sama di tahun 2017 yakni 20 kasus. Sedangkan, jumlah keseluruhan di tahun 2017, terungkap sebanyak 39 kasus. (trp/ono)