Koran Online 3 Des : Jurnalis WartaBromo Raih Penghargaan, hingga Indahnya Ragam Hayati Air Terjun Kali Pedati

0
217
Air terjun Kali Pedati. Berada di kawasan hutan lindung Petak 1a KRPH Bermi, Kabupaten Probolinggo, air terjun ini memberi ragam hayati untuk dinikmati. (Foto: Hendra Trisyanto/5:am_wildlifephotography).

Beragam peristiwa kami sajikan pada 2 Desember 2018 melalui laman media online wartabromo. Ragam berita menarik kini kami rangkum untuk kembali anda baca dalam koran online edisi Senin (3/12/2018). Mulai Jurnalis WartaBromo Raih Penghargaan, hingga Indahnya Ragam Hayati Air Terjun Kali Pedati :

  1. Jurnalis WartaBromo Raih Penghargaan di Ajang Indonesia Damai
Jurnalis Wartabromo, Mochammad Asad saat menerima piala penghargaan. Karya tulisnya berjudul ‘Ngobrol Bareng Mantan Kombatan dan Napi Terorisme soal Keindonesiaan’ termasuk satu dari 10 jurnalis yang masuk nominasi di ajang Indonesia Damai.

Jakarta (WartaBromo.com)- Tuntas sudah gelaran puncak Anugerah Indonesia Damai 2018. Berlangsung di Gedung Perfilman Osmar Mansur, acara yang digagas Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu berlangsung meriah.

Acara semakin meriah dengan pemberian penghargaan kepada 30 finalis dari tiga kategori lomba yang digelar sebelumnya. Yakni, lomba jurnalistik, lomba video pendek, dan juga lomba penyuluh agama. Masing-masing 10 finalis. Simak Selengkapnya.

  1. Anggaran Pendidikan Gratis di Kota Probolinggo Bertambah
Ilustrasi guru mengajar. Sumber gambar: tr.kisspng

Probolinggo (wartabromo.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo menambah anggaran dana program pendidikan gratis pada 2019 mendatang. Hal itu tertuang dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) yang tengah digodok dewan.

Dalam anggaran yang direncanakan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Kota Probolinggo, ada anggaran senilai Rp 1,7 miliar. Nomenklaturnya adalah untuk untuk program pendidikan gratis. Dengan tambahan tersebut, anggaran pendidikan gratis menjadi Rp 22 miliar. Simak Selengkapnya.

  1. Ciptakan Kreasi Boneka Tangan dan Lagu Anak untuk Alternatif Pembelajaran
Hari Widyanto (51) dan Nurul Khoiriyah (50), sepasang suami istri pencipta boneka dan lagu anak. Foto : Ardiana Putri

ANAK-anak siswa sebuah TK di Pasuruan tengah fokus dan asyik sambil terlihat cekikikan menonton pertunjukan boneka tangan. Boneka tangan yang dipertontonkan itu dipanggil Siba-Sibu oleh anak-anak.

Boneka seukuran tangan dewasa, berbentuk koala dengan warna putih untuk Siba dan hitam untuk Sibu.

“Siba dan Sibu ini kepanjangannya sisi baik dan sisi buruk. Menjadi perlambang dua sisi kehidupan manusia. Sisi baik harus dicontoh, sedangkan sisi buruknya harus dihindari,” jelas Nurul Khoiriyah. Simak Selengkapnya.

  1. Geliat Kopi Madu Kalidandan

DAPUR rumah Diman (54), warga Desa Kalindandan, Kecamatan Pakuniran terlihat sibuk. Setiap hari, ibu-ibu rumah tangga menyangrai kopi robusta hasil hutan Pegunungan Hyang atau Argopuro. Ada 5 kilogram biji kopi kering yang disangrai saat itu. Dengam menggunakan tungku berbahan bakar kayu, perlahan-lahan, biji kopi itu diaduk. Setelah warnanya cokelat kehitaman, biji kopi diangkat dari perapian.

Setelah didinginkan, biji kopi itu ditumbuk halus dengan alat manual. Lantas ditimbang untuk dikemas dalam kemasan berukuran 200 gram. Simak Selengkapnya.

  1. Menikmati Ragam Hayati Air Terjun Kali Pedati
Air terjun Kali Pedati. Berada di kawasan hutan lindung Petak 1a KRPH Bermi, Kabupaten Probolinggo, air terjun ini memberi ragam hayati untuk dinikmati. (Foto: Hendra Trisyanto/5:am_wildlifephotography).

AIR terjun Kali Pedati terletak di kawasan hutan lindung Petak 1a KRPH Bermi, Kabupaten Probolinggo. Objek wisata alam ini, menawarkan pesona yang berbeda dengan lainnya. Aneka satwa dan tumbuhan, menjadi menu pembuka sebelum mata kita tertuju pada air terjun setinggi 50 meter. Air yang jernih nan segar menjadi suguhan selanjutnya.

Untuk menjangkaunya para traveler atau wisatawan bisa menggunakan kendaraan roda 4 atau roda 2 dari kantor KRPH Krucil sejauh kurang lebih 7 km. Kendaraan kemudian diparkir di rumah penduduk. Perjalanan pun dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 1 km. Jalan setapak ini, memiliki karakter jalur yang relatif datar. Akan ada dua titihan bambu, menyebrangi sungai kecil. Simak Selengkapnya.