Cerita Remaja asal Gondangwetan Hingga jadi Jawara Downhill

0
1051
“Ke depan, inginnya tetap di bidang downhill dan akan terus membanggakan kedua orang tua lewat jalur ini, selain itu saya akan terus membanggakan tanah kelahiran walaupun hingga saat ini belum ada perhatian dari pemerintah terkait,”

Laporan: Ardiana Putri

DIALAH Abdul Muhaimin (19), pelajar berprestasi di bidang olahraga yang sudah tiga tahun bergelut di dunia sepeda gunung atau Mountain Bike (MTB) Downhill. Bagi atlet asal Desa Ranggeh, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan ini, bersepeda bukanlah sekadar hobi semata.

Saat masih duduk di bangku kelas IX SMP, ia mulai melirik hobi bersepeda. Awalnya, anak pertama dari tiga bersaudara ini bergabung di sebuah komunitas pecinta BMX karena ajakan seseorang.

“Ada yang mengajak saya untuk ikut gabung latihan bersepeda di belakang Gor Untung Suropati Pasuruan, sejak itulah saya mulai intens latihan,” ujarnya.

Sejak itu pula dirinya mulai memberanikan diri untuk menjajal beberapa kejuaraan BMX. Namun sayang dirinya belum beruntung untuk mendapatkan gelar juara kala itu. Selain BMX, seiring berjalannya waktu ia juga mulai mengenal MTB Downhill. Ia mengaku, jika adrenalinnya lebih tertantang saat bermain Downhill.

Beberapa kali gagal dalam kompetisi melecutkan semangatnya untuk lebih bekerja keras. Hampir tiada hari tanpa latihan. Pagi sebelum berangkat sekolah dan sore menjelang adzan maghrib. Bahkan Muhaimin selalau merelakan akhir pekannya untuk terus latihan.

Abdul Muhaimin (tengah) saat menyabet medali emas di ajang Kejuaraan Downhill Provinsi, Desember 2018. (Foto: istimewa)

Kerja kerasnyapun akhirnya membuahkan hasil. Di tahun 2016, Muhaimin berhasil menyabet medali untuk pertama kalinya. Ia sukses meraih juara dua kelas youth 2,2 kilometer di Kudus. Sejak saat itulah pelajar di SMK PGRI Kota Pasuruan ini terus mendapat prestasi di berbagai kejuaraan.

Hingga saat ini, medali yang ia kumpulkan sudah mencapai 26 buah. Pencapaian tertinggi di kelasnya pun sudah berhasil ia raih. Muhaimin mendapatkan medali emas dalam ajang Kejurprov pada 15 Desember 2018. Tak hanya itu, ia mendapatkan juara overall Nasional pada November 2018 lalu.

Sebelum akhirnya diakui sebagai atlet kelas nasional, pelajar kelas 12 ini mengaku sering mengalami masa-masa sulit dalam perjuangannya, seperti terjatuh hingga rahangnya bergeser. Bahkan pengalaman pahitpun seringkali harus ia telan.

Sang ayahlah yang selalu mendukungnya. Rohmat (36) bisa dibilang orang yang paling berjasa dalam perjalanan karir sang anak. Ia sendirilah yang harus pontang-panting mencari dana untuk keperluan anaknya.

“Karena biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit, saya berusaha sekeras mungkin untuk mencari dana ketika anak saya akan berangkat lomba. Saya sendirilah yang mencari sponsor dari beberapa pihak,” ungkapnya.

Saat disinggung mengenai keterlibatan pemerintah, iapun tak banyak berharap. Sistem birokrasi yang dirasa menyulitkan, tak akan membantu anaknya.

“Tidak berharap banyak, hanya saja pernah pada suatu kesempatan saya harus membawa nama daerah saat Muhaimin akan lomba di Kejurprov. Ia harus memakai jersey dengan tulisan Kabupaten Pasuruan di dadanya. Itupun tidak diberikan oleh pihak sana. Sampai akhirnya saya cuma minta desainnya kemudian saya cetak sendiri dalam bentuk skotlet, terus ditempelkan di jerseynya,” ungkap Rohmat.

Ia juga mengatakan, Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) sepertinya belum ada di Pasuruan. Bahkan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) hingga kini belum bisa menaungi atlet yang telah mengharumkan nama Kabupaten Pasuruan ini.

“Untuk tahun depan sepertinya anak saya akan lebih sibuk untuk mempersiapkan event yang lebih bergengsi lagi, Indonesian Event Downhill dan Enduro Event. Itu bukan lagi kelas junior,” pungkasnya. (*)