Menelisik Sejarah Mistis Banyubiru

7654
Orang-orang niatnya ke tempat ini untuk refreshing sehingga wajahnya terlihat berseri-seri dan suasana hatinya senang. Makanya wajahnya terlihat awet muda.

Laporan: Ardiana Putri

PEMANDIAN alam Banyubiru menyimpan eksotisme tersendiri. Selain menjadi salah satu destinasi pemandian yang dikenal dengan kealamiannya, kolam pemandian ini juga menyimpan kisah mistis yang menarik untuk ditelisik.

Konon, air kolamnya yang berasal dari sumber ini dapat membuat wajah terlihat awet muda. Selain itu, banyak orang datang untuk niatan berobat. Tak hanya sampai di situ, Banyubiru menyimpan ribuan ikan keramat.

“Kalau mandi di sini membuat orang terlihat awet muda memang iya, karena orang-orang niatnya ke tempat ini untuk refreshing sehingga wajahnya terlihat berseri-seri dan suasana hatinya senang. Makanya wajahnya terlihat awet muda,” ungkap sang juru kunci.

Subandi (60), Juru Kunci Banyubiru.

Adalah Subandi (60) warga asli Desa Sumberejo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan mengungkap sejarah kisah mistis kolam pemadian Banyubiru. Beberapa hari yang lalu, Wartabromo berkesempatan menemui sang juru kunci Banyubiru tersebut.

Ia pun mulai berkisah sembari menunjukkan tiap-tiap sudut Banyubiru.

Setelah Kerajaan Majapahit runtuh, sebagian rakyatnya memilih untuk memeluk agama baru. Sebagian lainnya melakukan pelarian ke berbagai wilayah, termasuk salah satunya di sebuah hutan yang kini lebih dikenal sebagai Desa Sumberrejo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan. Dua prajurit yang terdampar tersebut masing-masing bernama Mbah Kebut dan Mbah Tombro.

Oleh Mbah Kebut dan Mbah Tombro, hutan itu dibabat dan dijadikan permukiman baru. Untuk mencukupi kebutuhan kesehariannya, mereka berdua bekerja. Mbah Tombro sebagai petani, sedangkan Mbah Kebut sebagai pembuat keris atau empu. Hingga kini, peninggalan keris buatan Mbah Kebut yang berupa Peron itu dapat disaksikan dan diletakkan di sebelah makamnya yang juga berada di kompleks pemandian Banyubiru.

Sejumlah warga saat menikmati kesegaran pemandian alam Banyubiru.

Dikisahkan, Mbah Tombro memelihara dua ekor kerbau. Pada suatu hari, ia tak mendapati kedua peliharaannya itu. Ternyata kedua kerbau miliknya itu tengah asyik berkubang di dalam sebuah kolam kecil berlumpur. Beberapa saat kemudian, Mbah Tombro menyadari jika kerbau-kerbaunya itu terperangkap dalam lumpur dan tak dapat bergerak.

Mbah Tombro berinisiatif untuk memetik empat lembar daun keladi kemudian dikibaskannya tepat di depan kerbaunya yang masih terperangkap. Beberapa saat kemudian, barulah kedua kerbau itu dapat terlepas dari kubangan lumpur.
Sebuah keajaiban muncul, air bekas kubangan kerbau-kerbau milik Mbah Tombro berubah menjadi sangat jernih. Bahkan di dasar air tampak dua ekor ikan Sengkaring, yang hingga saat ini masih bisa disaksikan bahkan jumlahnya kian banyak.

Sejak ditemukannya kolam ajaib itu, masyarakat sekitar banyak yang memanfaatkannya untuk mandi. Lantaran kejernihan airnya itulah, kolam yang berlokasi di Desa Sumberrejo ini dinamakan Banyubiru.

Kabar ditemukannya kolam yang disebut ajaib itu, terdengar hingga ke telinga Bupati Pasuruan, Raden Adipati Nitiningrat. Bekerja sama dengan seorang Belanda yang bernama P.W. Hoplan, kolam itu diperindah dengan taman-taman bunga serta dilengkapi dengan 11 jenis situs purbakala yang diambil dari Singosari.

Sekitar tahun 1980, situs-situs bersejarah tersebut telah dilindungi oleh Seksi Kebudayaan Departemen Kependidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan. Hingga kini, warga asli Pasuruan maupun luar daerah dapat menikmati kesegaran dan kealamian air Banyubiru, hanya dengan merogoh kocek Rp 5.000 saja.

Banyak anggapan air dari kolam Banyubiru dapat mendatangkan kesembuhan. Namun, kakek asli Desa Sumberrejo ini kembali menegaskan, kesembuhan datangnya dari Tuhan. Bukan karena mengunjungi suatu tempat yang dianggap keramat.

“Karena rasa terima saya kepada alam dan tanah kelahiran yang telah banyak membawa berkah, saya ingin terus mengabdi sebagai juru kunci. Hingga saya bisa menemukan orang yang tepat untuk menggantikan saya,” pungkas Subandi. (*)