Terpangkas, Usulan Jargas Kabupaten Probolinggo Sebanyak 5 Ribu

0
290
Pemukiman Desa Dringu, Kabupaten Probolinggo.

Probolinggo (wartabromo.com) – Pemerintah Pusat memangkas alokasi jarigan gas (Jargas) untuk Kabupaten Probolinggo. Jika sebelumnya direncanakan sebanyak 10 ribu sambungan rumah tangga (SR), ternyata bantuan yang disetujui hanya separuhnya.

Kepala Bagian Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam Kabupaten Probolinggo, Santoso menuturkan, bantuan pembangunan jargas meleset dari usulan semula. Tahun lalu, Pemkab Probolinggo mengusulkan sebanyak 10 ribu SR saat survei awal. Namun, setelah disurvei, alokasi hanya separuhnya saja.

Alasan turunnya bantuan itu tak lain karena anggaran. Sayang, Santoso tidak menjelaskan secara detail mengenai alasan anggaran yang dimaksud seperti apa. “Awalnya bantuan yang akan diberikan sekitar 10 ribu jaringan. Setelah disurvei tahun lalu itu, ternyata yang turun hanya 5 ribu Jargas,” ungkapnya, Senin (18/2/2019).

Meski dipangkas dan tidak sesuai estimasi, pihaknya menurut Santoso tetap menerima alokasi itu. Untuk 5 ribu jargas itu akan dipasang di tiga kecamatan seperti yang telah di sepakati sebelumnya. Yaitu Kecamatan Tongas, Kecamatan Sumberaaih dan Kecamatan Dringu. Pengerjaan proyek diperkiraan mulai Maret mendatang.

“Tetap kami terima, ini kan demi kemaslahatan masyarakat. Itu kan yang lebih tahu adalah pihak pusat. Insya Allah nanti akan dilakukan pemasangan pada Maret. Entah pertengahan atau awal bulan, kami masih belum tahu,” ungkapnya.

Harga gas melalui Jargas ini, dipastikan lebih murah dari pada elpiji bersubsidi 3 kg. Santoso mengatakan masyarakat yang menerima bantuan itu tidak akan merugi. Apalagi, biaya pemasangannya sekitar Rp 2,5 juta, ditalangi secara gratis oleh pemerintah pusat. “Sudah tentu lebih murah dan aman. Biaya untuk pemasangan, dananya dibantu oleh pemerintah pusat,” tandas mantan Kepala Kantor Perpustakaan Daerah ini.

Rencana pembangunan Jargas ini menurut Kepala Desa Dringu, Bukhari sangat membantu masyarakat. Desa Dringu masuk dalam jaringan PGN sekitar 500 rumah tangga sepanjang jalur jalan Deandles. Selain itu, ada 167 nelayan yang menggunakan LPG untuk BBM perahunya.

“Pasti lebih hemat, karena program ini sudah pasti sangat membantu masyarakat umum maupun masyarakat industri. Harga lebih murah daripada LPG dan akses gas lebih mudah dan cepat. Tinggal pencet dan klik, gas mengalir untuk kebutuhan pokok. Hanya perlu sosialisasi agar masyarakat tahu terkait K3 dan penggunaanya kelak,” kata Bukhari.

Jargas ini, memanfaatkan jaringan pipa induk yang sudah ada di Kabupaten Probolinggo. Diikatakan, jaringan pipa induk ini, sudah ada sejak tahun 1990-an. Pipa induk ini, menyuplai kebutuhan gas bumi bagi dua perusahaan, yakni PT. Kertas Leces dan PT. Sasa Inti. (cho/saw)