Dana Apel 18 M vs 1 M Dana Bantuan Sentani

5105
Alangkah baiknya jika dana Rp18 M itu dialihkan untuk bantuan rakyat Sentani.

Oleh: Ika Ummu alfatihah (aktivis muslimah)

BARU-BARU ini Pemerintah Jawa Tengah melaksanakan Apel Kebangsaan. Disinyalir apel ini memakan banyak uang negara. Aktivis kemanusiaan, Natalius Pigai mengaku prihatin uang negara dihambur-hamburkan untuk penyelenggaraan apel kebangsaan yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Minggu, (17/3).

Hal ini dikatakan terkait musibah banjir bandang yang menerjang sembilan kelurahan di Kecamatan Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu (16/3) malam. “Nalar publik tercederai! Di saat menimpa bangsa saya, tim Jokowi berpesta pora Rp18 miliar uang negara, uang rakyat kecil untuk sebuah acara musik yang dihadiri hanya 2 ribuan orang,” ujarnya, Senin (18/3/2019).

Ia pun justru membandingkan alokasi bantuan dana dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua. “Bantuan BPBP Papua hanya Rp1 miliar untuk rakyat Sentani Papua,” jelasnya. (wartaekonomi.co.id 19/3/19)

Memang sungguh menyayat hati. Di saat rakyat Papua sedang berjuang hidup setelah musibah banjir bandang yang menimpa mereka beberapa waktu lalu. Mereka kehilangan harta, tempat tinggal, bahkan keluarga. Mereka sangat membutuhkan bantuan dari negara kita ini. Tapi bantuan yang mereka dapatkan tidaklah banyak.

Dengan banyaknya korban dan kerusakan, rakyat Papua hanya mendapat bantuan sebesar Rp1 M. Hal ini sangat jauh dengan kegiatan apel kebangsaan yang memakan uang negara Rp18 M.

Jika kita fikir dengan nalar sehat, apakah apel kebangsaan ini lebih membutuhkan uang negara dari pada rakyat sentani yang sedang merana?

Alangkah baiknya jika dana Rp18 M itu dialihkan untuk bantuan rakyat Sentani, karena dana bantuan harus seimbang dengan kebutuhan korban bencana. Hal ini pernah dicontohkan oleh khalifah umar bin khatab.

Pada masa kekhalifaan Umar Bin Khatab pernah mengalami musim paceklik di seluruh jazirah Arab. Sehingga kebanyakan tanaman para petani mati karena kekurangan air. Para korban bencana paceklik meminta bantuan kepada khalifah, sehingga khalifah Umar Bin Khatab membentuk “tim sosial” yang bertugas untuk memberikan bantuan pangan kepada korban yang semakin banyak membanjiri kota Madinah.

Tim Sosial tersebut terdiri dari Yazid bin Ukhtinnamur, Miswar bin Makhramah, Abdurrahman bin Abdul Qari dan Abdullah bin Utbah bin Mas’ud.

Setiap sore, mereka berkumpul di kediaman Khalifah Umar bin Khattab untuk melaporkan berbagai aktivitas mereka sehari, bersamaan merencanakan program-program kerja untuk hari-hari selanjutnya.

Setiap orang dari anggota “Tim Sosial ” tersebut ditempatkan pada pos-pos mereka masing-masing di perbatasan Kota Madinah, untuk mencatat hilir mudiknya orang yang masuk dan keluar kota Madinah yang mencari bantuan pangan tersebut.

Pada suatu malam Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata: “Hitunglah orang -orang yang makan malam di tempat ini”.

Dan setelah dihitung dengan sangat cermat ternyata jumlahnya tujuh ribu orang. Selanjutnya Khalifah Umar bin Khattab berkata lagi: “Hitunglah jumlah keluarga yang tidak mampu datang kemari”. Dan tim sosial segera menghitungnya dengan cermat yang ternyata jumlahnya ada empat puluh ribu orang.

Hal itu dilakukan agar bantuan yang di berikan merata, tidak kurang, sehingga bantuan sesuai dengan jumlah korban bencana. Sungguh indah jika seorang pemimpin mengandalkan ketaqwaanya dalam memimpin karena seorang pemimpin yang bertaqwa paham, bahwa jabatan adalah amanah yang amat berat yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban

Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
Setiap Kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya”. (HR. Bukhari Muslim).

Wallahu’alam