Kisah Endang Sukarni dan Mitos Desa-Desa di Danau Ranu Grati (Bagian 1)

2557
Pesona keindahan alam danau seluas 1.085 Hektar itu menakjubkan. Namun di balik eksotismenya, Ranu Grati menyimpan misteri. Begitu juga tentang desa-desa di sekitarnya. Ada  mitos, munculnya desa-desa sekitar Danau Ranu.

Laporan: Ardiana Putri

DIALAH Sudin, sang Juru Kunci Danau Ranu, Grati. Usianya sudah lanjut. Namun, ingatannya masih cukup tajam untuk menceritakan asal-mula terjadinya desa-desa di Ranu Grati.

Kakek lahir pada 25 Mei 1922 ini menuturkan, ia mendapat mandat langsung menjadi juru kunci Ranu Grati dari Raden Ayu Endang Sukarni.

Rambut kakek Sudin telah memutih dan matanya mulai layu, tapi itu tak menyurutkan semangatnya untuk berbagi kisah tentang mitos desa-desa di sekitar tempat tinggalnya, yang terletak di Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan itu.

“Saya dijadikan juru kunci oleh Raden Ayu Endang Sukarni ini mulai tahun 1981,” ujar kakek Sudin memulai ceritera.

Danau Ranu Grati, Kabupaten Pasuruan.

Alkisah, hiduplah seorang Putri cantik bernama Raden Ayu Endang Sukarni. Perjalanan hidupnya yang penuh onak menjadi saksi lahirnya nama desa-desa di sekitar Danau Ranu Grati.

Endang Sukarni sengaja datang ke sebuah daerah di wilayah Timur (kini dinamai Grati) dengan tujuan untuk mencari saudaranya. Bagai seorang musafir, ia berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya. Namun saudaranya itu tak kunjung ia temukan.

“Saudaranya Endang Sukarni dikabarkan berada di Grati, maka Raden ayu Endang Sukarni mencarinya di sini,” tutur Sudin.

Berbulan-bulan Endang Sukarni terus mencari saudaranya. Hingga sampailah ia di sebuah sendang yang disebut Sendang Tanah Perdamaian. Dua bulan lamanya, Endang Sukarni tinggal. Lantaran tak bertemu, ia kemudian memutuskan pergi ke daerah lain.

Hutan demi hutan disusuri. Endang Sukarni terus berjalan ke arah utara, sampailah di sekitar wilayah Pasar Grati. Tiga bulan menghabiskan hidup di sana. Lagi-lagi Endang Sukarni tak menjumpai adinda tercinta.

Pada suatu waktu, seorang Demang (penguasa daerah) mendengar desas-desus, di wilayah kekuasannya terdapat seorang perempuan, memiliki paras rupawan, sedang melakukan perjalanan. Rasa penasaran Sang Demang tak lagi dapat ditutupi.

“Bawa perempuan itu kemari, ke hadapan saya,” pinta Sang Demang pada pengawalnya.

Saat Endang Sukarni tiba di Kademangan, seluruh penduduk takjub akan kecantikannya. Begitupun dengan Demang.

Sayang sekali orang secantik ini, kok hidup di hutan?” celetuk seorang penduduk.

Endang Sukarni kemudian diberi kesempatan tinggal di kademangan. Tak berapa lama Sang Demang mempersuntingnya menjadi istri. Padahal Demang sudah miliki cukup banyak istri.

Tiga bulan berlalu, Kademangan yang selalu aman dan damai, tiba-tiba mendapatkan petaka. Wabah penyakit mematikan menyebar, menyerang hampir seluruh penduduk Kademangan.

Sang Demang berpikir keras dan bertanya-tanya, mengapa sampai terjadi wabah aneh. Ia pun berdoa kepada Sang Maha Kuasa untuk menghentikan wabah penyakit yang sudah terlanjur menyebar di daerahnya.

Ia merasa bertanggungjawab atas wilayah yang sudah diamanahkan orang tuanya dulu yang berpesan untuk menjaga sebuah daerah di Pasuruan Timur.

Apakah penyebabnya gara-gara saya menjadi demang di wilayah ini?” ujar Demang penuh sesal.

Sebuah jawaban datang, bahwa wabah penyakit itu karena demang terlalu senang memiliki istri cantik rupawan, Endang Sukarni. Itu menjadikannya terlena karena nafsunya yang terlalu besar. Maka Demang pun mengikhlaskan Endang Sukarni untuk pergi, agar wilayahnya itu aman kembali.

Endang Sukarni kemudian meninggalkan Kademangan menuju sebuah kampung di wilayah timur. Iapun menyebut daerah yang pernah ditinggali bersama Demang itu dengan sebutan Sumber Dawe Sari. Endang Sukarni menyebutrnya begitu, karena selama tinggal di sana, wajahnya masih begitu ayu. Daerah itu memberikan kenyamanan untuknya.

Ia pun meninggalkan Sumber Dawe Sari, berjalan ke arah timur.

Berhenti di sebuah hutan. Keanehan dirasakan, badannya yang mulus dan bercahaya tiba-tiba diserang gatal-gatal. Hatinya pun merasa jengkel. Daerah yang menjadikan tubuhnya penuh luka saa itu, kemudian ia sebut Dusun Brongkol (kejengkelan).

Dikisahkan, Dusun Brongkol dahulu dikenal tempat orang-orang dengan kehidupan keras, kerap terjadi pertarungan. Entah sebabnya apa.

Dusun Brongkol juga berdekatan dengan Desa Senganom dan Plososari. Desa-desa itu merupakan wilayah perbatasan Kecamatan Grati. (*)