Kekerasan Seksual Masih Tinggi, Women’s March Pasuruan Bersuara

1537
Para peserta Women's March Pasuruan dalam aksinya di GOR Untung Suropati Kota Pasuruan. Minggu, (28/4/2019)

Pasuruan (wartabromo.com) – Tingginya angka kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan di Pasuruan masih menjadi perhatian. Para aktivis perempuan berupaya untuk menyuarakannya dalam aksi Women’s March Pasuruan, Minggu (28/4/2019).

Para peserta aksi dari berbagai latar belakang berbeda, seperti mahasiswa, guru, aktivis perempuan, bahkan ibu rumah tangga berkumpul di GOR Untung Suropati Kota Pasuruan, mengikuti aksi peringatan hari perempuan internasional ini. Mereka tampak bersemangat mengikuti longmarch di sepanjang jalan Sultan Agung hingga berorasi bersama.

Ika Dianing Lestari, Koordinator Women’s March Pasuruan 2019 mengungkapkan, aksi ini sebagai bentuk kepedulian terhadap perempuan di tengah darurat kekerasan seksual yang terjadi saat ini. Para peserta aksi pun menyuarakan, agar para korban kekerasan seksual tak lagi takut untuk melaporkan tindak kekerasan yang dialaminya.

“Perlu upaya bersama di kalangan perempuan untuk bersama-sama memerangi kekerasan seksual, apalagi kasus kekerasan seksual di Pasuruan tergolong masih tinggi,” ungkap Ika di sela-sela aksi.

Sebagai Ketua Woman Crisis Centre (WCC) di Kota Pasuruan, ia mengatakan kasus kekerasan di kota ini semakin tahun kian meningkat. Berdasarkan data yang dihimpun WCC, setidaknya ada 150 kasus di tahun 2017 dan meningkat pada tahun 2018, yakni 170 kasus.

“Kami yakin fakta di lapangan lebih dari angka itu. Karena masih banyak korban yang diam bahkan takut jika mengalami kekerasan,” imbuhnya.

Menariknya, aksi tak hanya diikuti oleh perempuan saja. Laki-laki pun turut serta dalam aksi ini. Yudha, salah satu peserta aksi dalam posternya menuliskan, “Kami laki-laki mendukung perempuan untuk peradaban”.

Menurutnya, gerakan perempuan tidak hanya penting bagi perempuan saja, namun juga laki-laki atau masyarakat umum lainnya. Kemajuan masyarakat akan lebih progresif jika masyarakat menghargai kesetaraan gender.

“Laki-laki maupun perempuan harus sama-sama berjuang untuk melawan kekerasan,” ungkapnya.

Selain itu, gerakan ini dilakukan untuk menuntut pemerintah agar segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan. Menghapus diskriminasi terhadap perempuan, serta menghentikan kriminalisasi yang dialami perempuan maupun kelompok minoritas lainnya.

Sekadar diketahui, Women’March Pasuruan adalah gerakan untuk memperingati hari perempuan internasional yang jatuh pada 8 Maret. Namun berbeda dari tahun sebelumnya, tahun ini kegiatannya diubah menjadi bulan April, sekaligus mengenang Raden Ajeng Kartini selain juga bertepatan dengan momen Pemilu. (ptr/ono)