Pengepungan Mapolsek Kotaanyar Dipicu Disinformasi Aksi Pukul Polisi terhadap Warga

21096

Probolinggo (wartabromo.com) – Mapolsek Kotaanyar, Probolinggo dikepung warga Dusun Tegalan, Desa Tambak Ukir kepung Mapolsek Kotaanyar, pada Sabtu (27/4/2019) petang. Dugaan pemukulan polisi terhadap warga bernama Sahriman, yang jadi pemicu pengepungan, disanggah.

Kapolsek Kotaanyar, AKP Noer Choiri menegaskan, bila aksi massa itu lebih karena ada kesalahfahaman. Persoalan bermula, ketika anggotanya melaksanakan kegiatan pembubaran judi jangkrik di Desa Tambak Ukir sekitar pukul 14.30 WIB. Saat itu, petugas mengamankan 18 motor, sedangkan para pelaku judi melarikan diri.

Tak lama, belasan motor diambil oleh pemiliknya. Namun, ada 6 motor masih  belum diambil oleh pemiliknya. Ternyata, salah satu motor itu milik petani yang sedang bekerja mencangkul sawah.

“Ada sekitar 18 motor yang kami amankan. Tetapi kemudian diambil oleh orangnya semua, hanya tinggal 6 motor yang tak lain adalah milik para petani yang turut ikut diamankan,” terang Kapolsek.

Karena lokasi sepi, petugas tetap menunggu hingga pukul 15.40 WIB. Karena pertimbangan keamanan, kemudian motor tersebut dinaikkan ke atas mobil patroli, dibawa ke Mapolsek. “Dari pada kami tinggal, takut hilang. Sehingga kami bawa ke Mapolsek dan yang mau mengambil biar mengambil di Polsek,” ungkap Noer Choiri.

Ketika dalam perjalanan menuju Mapolsek, tiba-tiba ada dua orang pengendara motor memotong laju mobil patroli. Pengendara motor itu, salah satunya Sahriman, tertabrak mobil patroli, hingga terjatuh ke aspal. Insiden itu membuat bibir Sahriman berdarah. Bahkan, anggota yang berada di belakang kabin, juga terdorong ke depan.

Oleh anggota, Sahriman dibawa ke rumah sakit Rizani untuk mendapat perawatan medis. Kemudian dipindah ke rumah sakit.

“Cerita sebenarnya begitu. Jadi tidak ada pemukulan. Itu memang terjatuh bukan dipukul. Anggota kami yang ada di bak belakang juga terjatuh,” kata Noer Choiri.

Saat di rumah sakit itu, Noer Choiri juga menanyakan langsung kepada korban, soal pemukulan oleh anggotanya.

“Korban sendiri membantah telah dipukul oleh anggota saya. Namun yang berkembang di masyarakat Desa Tambak Ukir adalah korban dipukul oleh anggota,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya kemudian menjelaskan kepada kepala desa dan tokoh masyarakat, kronologi sebenarnya. “Ternyata ada yang memprovokasi bahwa korban ini kritis. Sehingga banyak warga datang ke sini untuk menanyakan kondisi sebenarnya. Jadi sekali lagi saya tegaskan, bahwa tidak ada pemukulan,” tegas mantan Kapolsek Sukapura ini.

Kapolsek Noer Choiri dan Aan Sugianto, tokoh masyarakat setempat, mencoba memberikan pemahaman, sampai kemudian warga membubarkan diri setelah mendapat jaminan dari kedua tokoh tersebut. “Warga dengan kesadarannya sendiri, kembali ke rumah masing-masing,” kata Aan Sugianto. (saw/saw)