Santri Probolinggo Menuju Era Industri 4.0

760

Probolinggo (wartabromo.com) – Era industri 4.0 menjadi tantangan bagi kaum santri, tak terkecuali santri di Kabupaten Probolinggo. Menyadari tantangan itu, Kementerian Perindustrian menggandeng Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Jadid Paiton melalui bimbingan teknis Wira Usaha Baru (WUB) bagi santri.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA), Gati Wibawaningsih, mengatakan kegiatan yang berlangsung pada 23-27 Juli itu, bertujuan mendorong penumbuhan wira usaha baru santri. Utamanya dibidang industri sandang dan kulit, melalui program WUB santri berindustri. Sebab kegiatannya berupa Bimbingan Teknis dan Fasilitasi Mesin Peralatan WUB IKM Konveksi.

“Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para santripreneur, dalam menghadapi era industri digital, serta agar mampu memanfaatkan perkembangan teknologi digital terkini. Selain dikenal menjadi tempat untuk menempa para santri yang berakhlak dan berbudi pekerti luhur, ulet, jujur, dan pekerja keras,” usai Gita saat memberikan bantuan kepada peserta pelatihan, Selasa (23/7/2019)

“Kami yakin pondok pesantren dapat berperan strategis dalam mendukung pertumbuhan industri 4.0 di Indonesia. Sebab, selain ilmu agama juga sudah melek terhadap perkembangan teknologi digital. Apalagi Pondok pesantren juga memiliki potensi pemberdayaan ekonomi, karena sudah banyak pondok pesantren yang mendirikan koperasi serta mengembangkan berbagai unit bisnis,” lanjutnya.

Dalam kegiatan ini, setidaknya ada 30 santri yang menjadi peserta. Ponpes Nurul Jadid dipilih karena sudah mempunyai unit konveksi yang sudah berproduksi sejak 3 tahun lalu.

Dalam catatan Direktorat Jenderal IKMA, sejak 2013 hingga saat ini sudah ada 33 pesantren mendapat fasilitas serupa. Sampai akhir tahun, Ditjen IKMA masih akan merangkul 14 ponpes lainnya di Indonesia.

“Cakupan ruang lingkup pembinaan kami diantaranya, pelatihan produksi dan bantuan mesin atau peralatan di bidang olahan pangan dan minuman (roti dan kopi), perbengkelan roda dua, kerajinan boneka dan kain perca, konveksi busana muslim dan seragam, daur ulang sampah, produksi pupuk organik cair serta pendampingan SNI garam beryodium,” tandas wanita berkacamata ini.

Kepala Ponpes Nurul Jadid, KH. Abdul Hamid mengungkapkan program ‘Santri Milenial di Era Perkembangan Teknologi Industri’ mempunyai efek positif bagi santri. Apalagi di Ponpes Nurul Jadid sudah ada usaha konveksi yang dijalan oleh santri dengan omset sekira 200 juta per bulannya. Sehingga penambahan skill itu, akan semakin menambah bekal santri saat kembali ke masyarakat.

“Kami sangat bangga dengan program yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) ini. Pelatihan ini akan semakin menambah bekal santri. Karena di pesantren ini, selain pendidikan formal dan informal, kami juga mengembangkan pendidikan kewirausahaan. Sehingga nantinya, ketika mereka kembali masyarakat sudah bisa berkarya,” ungkap pria yang karib dipanggil Ra Hamid ini. (saw/saw)