Mengenal Cyber Bullying dan Cara Menghindarinya

337

Pasuruan (Wartabromo.com) – Masih hangat diingatan kematian Sulli, salah satu artis asal Korea Selatan. Kematiannya disebut-sebut akibat depresi lantaran hujatan para netizen.

Bukan rahasia lagi, media sosial menjadi wadah untuk siapapun berkomunikasi, bahkan berkomentar. Tapi jangan salah, meski hanya sebuah tulisan, ternyata bisa juga membuat orang merasa tertekan.

Bagaimana tidak, banyak oknum tak bertanggung jawab yang berkomentar kurang menyenangkan. Mulai dari mengejek, mempermalukan, bahkan sampai mengancam.

Padahal, ucapan pedas yang dilontarkan di media sosial dapat masuk kategori tindak kejahatan, cyber bullying.

Sebenarnya, apa sih Cyber Bullying?

Cyber bullying merupakan tindakan dimana seseorang menyalahgunakan internet untuk melecehkan, mengancam, mempermalukan, dan mengejek orang lain. Kasusnya sama dengan perundungan secara verbal. Hanya saja, cyber bullying tidak membutuhkan tatap muka dan tanpa melibatkan kekuatan fisik.

Meski begitu, cyber bullying juga merupakan salah satu tindakan kejahatan lho. Jika dulu orang hanya mengenal mulutmu harimaumu, sekarang muncul istilah jempolmu harimaumu.

Jangan sesekali memberikan komentar tak sedap kepada seseorang. Sebab, bisa jadi orang tersebut tertekan, depresi bahkan kehilangan nyawa.

Semua orang dapat menjadi korban cyber bullying. Pelakunya juga bisa dekat dengan kehidupan kita.

Bukan tak mungkin, anak-anak bisa menjadi pelaku cyber bullying dan melecehkan orang lain di Internet. Terlebih, saat ini mereka mahir Internet dan perangkat aksesnya.

Nah, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, ada baiknya orang tua menerapkan etika bermedia sosial pada anak. Mengutip kompas, ada beberapa hal yang bisa diajarkan orang tua. Antara lain:

1. Perlakukan orang sebagaimana kamu ingin diperlakukan

Hal pertama yang mesti disampaikan kepada anak adalah aturan untuk memperlakukan seseorang sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Tanamkan pada anak bahwa aturan ini berlaku di kehidupan nyata maupun dunia maya.

Senantiasa dorong anak untuk bertanya pada diri sendiri, apa efek yang dirasakan saat menerima pesan negatif dari orang lain. Yakinkan mereka untuk selalu mendiskusikan masalah yang dihadapi. Sebab, ujaran pedas di media sosial bukan solusi untuk menyelesaikan masalah.

2. Saring sebelum sharing

Hal kedua yang perlu diajarkan adalah senantiasa berhati-hati dalam mengirim pesan ataupun berkomentar. Bahkan ketika mengirimkan candaan dalam bentuk teks, juga perlu diperhatikan. Sebab, bisa jadi pembaca memiliki persepsi berbeda. Perlu ditekankan juga, bahwa jejak digital tidak pernah bisa dihapus.

3. Hanya kirimkan pesan-pesan yang positif

Selanjutnya, dorong anak untuk selalu menyaring isi pesan yang akan dikirim. Selalu ingatkan anak agar tidak mengirimkan kata kasar, tidak sopan, gosip, sindiran ataupun hoaks.

Beri pengertian kepada anak bahwa sekarang telah ada UU ITE yang siap menjerat siapapun yang menyalahgunakan jejaring sosial.

4. Jangan ikuti teman yang melakukan bully

Seorang anak mungkin tidak menjadi pelaku cyber bullying. Namun, bukan tidak mungkin perilaku itu menular dari teman-temannya.

Ya, keberadaan grup chat dapat menjadi daya tarik bagi anak dalam mengakses media sosial. Maka dari itu, sampaikan pada anak, ketika percakapan sudah mengarah ke cyber bullying, cukup menghindar, atau tidak ikut-ikutan.

Jadi, orang tua memegang peran penting dalam memberikan edukasi terkait etika bermain media sosial. Hal itu diharapkan dapat mencegah mereka tidak ikut terseret menjadi pelaku bully, baik di kehidupan nyata ataupun dunia maya. (bel/may)