Ngembe, Legenda Kampung Petasan di Pasuruan

2228
Barang bukti petasan di Mapolres Pasuruan pada 2015 silam. Petasan ini merupakan hasil penggerebekan di kampung petasan Ngembe, Kecamatan Beji. [Ilustrasi]
Predikat sebagai kampung pembuat petasan begitu lekat dengan Ngembe. Berkali digerebek, tak pernah benar-benar habis.

Laporan M Asad

SAAT letusan mercon itu masih dirasa menyenangkan, permintaan akan petasan itu akan tetap ada. Alasan itu pula yang membuat praktik pembuatan petasan di Ngembe, tak pernah benar-benar hilang.

Berlokasi di Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Desa Ngembe berada di 5 kilometer sisi selatan Bangil, ibu kota Kabupaten Pasuruan. Sekitar 10 menit jika menggunakan sepeda motor.

Memiliki penduduk sekitar 3.700-an jiwa, mayoritas warga Ngembe bekerja sebagai petani. Dengan luas wilayah mencapai 145,6 hektare, sawah-sawah di Ngembe terhampar luas.

Desa ini memiliki empat dusun. Yakni Grogolan, Simpar, Krikilan, dan Ngembe. Tak sampai sehari waktu yang dibutuhkan mengelilingi desa ini.

Konon, ihwal Ngembe sebagai desa pembuat petasan sudah berlangsung lama. Bahkan, lebih dari 50 tahun silam. Ketika terjadi pergolakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada era 60-an silam, Ngembe sudah begitu lekat dengan mercon.

“Waktu itu saya masih kecil. Tapi, seingat saya sudah ada yang buat mercon di sini,” kata Cak Man, tukang ojek yang biasa mangkal di dekat pintu masuk Desa Ngembe.

Kendati awalnya hanya sebagai pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan, pada akhirnya banyak warga yang beralih ke pekerjaan itu. Apalagi, penghasilan yang didapat juga lebih menjanjikan.

Padahal, jika dipikir-pikir lagi, bisnis petasan itu tak pernah stabil. Saat sedang longgar, pembuatan petasan begitu semarak. Sebaliknya, tatkala razia sedang kenceng-kencengnya, bisnis ini pun tiarap.

Bashori, pria yang kini menekuni bisnis kuliner adalah salah satu orang yang sempat menekuni bisnis berbahaya itu. Mengenal petasan sejak masih remaja, boleh dibilang ia cukup kawakan.

“Tadinya ya ikut-ikut. Jadi buruh linting, akhirnya tahu. Setelah itu ya buat sendiri karena tahu untungnya besar,” terangnya.

Pada zamannya dulu, memang banyak warga yang bekerja sebagai buruh linting petasan. Tapi, bukan di Ngembe. Melainkan di Singopolo, Kecamatan Bangil, sekitar 6 kilometer dari Ngembe. Dari sanalah kebiasaan membuat mercon itu masuk ke Ngembe.

Pengawasan aparat yang longgar, bahan baku yang mudah didapat, serta keuntungan tinggi memicu sebagian warga terjun ke bisnis ini.

Apalagi, tidak ada syarat khusus untuk melakoni bisnis ini. Satu-satunya syarat yang dibutuhkan adalah keberanian. Sebab, bukan tidak mungkin nyawa menjadi taruhan jika saja bubuk mesiu yang diracik meledak sewaktu-waktu.

Dulu, setiap pak yang berisi 10 petasan, pekerja diberi honor Rp1.000. Saat masih jaya, Bashori mempekerjakan tujuh buruh. Ia juga bisa berangkat haji dan membeli Isuzu Panther hasil melakoni bisnis ini.

Cerita serupa juga datang dari Tony, 24, tukang linting yang pernah bekerja untuk Bashori. Saat masih jaya-jayanya, ia bahkan bisa membeli sepeda motor seharga Rp 4 juta dari bayarannya.

Ngembe memang pemasok besar. Bukan hanya kota-kota di Jawa, pasar petasan Ngembe juga tersebar di pelosok negeri. Bali, hingga Kalimantan.

Lambat laut bisnis ini meredup pasca insiden Bom Bali 2002. Operasi yang kian intens membuat orang-orang seperti Bukhori memutuskan untuk beralih pekerjaan.

Namun demikian, tetap saja ada orang-orang nekat melawan bahaya. Membuat dan memperjualbelikan petasan tanpa izin. Penggerebekan rumah pembuat petasan di Ngembe, Sabtu (7/12/2019) lalu adalah buktinya.

Selain petasan siap pakai dalam jumlah yang cukup banyak, dua orang yang diduga sebagai pembuat turut diamankan.

Karena itu, jika Anda termasuk bermain petasan, boleh jadi itu made in Ngembe. (*)