Didominasi Lulusan SMA, Pengangguran di Kabupaten Probolinggo Meningkat

443
Ilustrasi lowongan pekerjaan.

Probolinggo (wartabromo.com) – Pengangguran di Kabupaten Probolinggo pada tahun 2019 mencapai 25 ribu orang. Mayoritas didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA).

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertran) setempat, Hujan Syarifuddin mengatakan, jumlah tersebut naik drastis dibanding tahun lalu. Jumlah peningkatan sekitar 8 ribu jiwa atau 47 persen. Sebab, pada tahun sebelumnya jumlah pengangguran ada di kisaran 17 ribu jiwa.

“Tingginya angka pengangguran ini, dikarenakan tingginya angkatan kerja, seiring banyaknya lulusan baru (fresh graduate). Sementara lapangam kerja tersedia sangat minim dan tidak bisa menampung lulusan-lulusan yang ada di Kabupaten Probolinggo,” ujar Hudan kepada wartabromo.com, Senin, 9 Desember 2019.

Dari 25 ribu itu, sekitar 8 ribu merupakan lulusan SMA dan Aliyah. Kemudian disusul oleh lulusan SMP dan SD. Sementara mereka yang mengenyam pendidikan Strata 1 (S1), ada sekitar seribuan.

“Yang paling banyak memang lulusan SMA dan MA, karena mereka tidak punya skill atau keahlian setelah lulus sekolah, serta tidak melanjutkan pendidikan lagi. Untuk lulusan SMK rata-rata diserap lapangan kerja. Sementara lulusan SMP dan SD lebih banyak terserap sektor non formal atau tenaga kasar,” ungkapnya.

Ia berharap Perda Tata Ruang Wilayah yang tengah dalam kajian untuk direvisi, segera selesai. Karena hal itu, akan memberikan kepastian kepada calon investor. Sebab, selama ini kata Hudan, banyak investor yang ragu masuk ke Kabupaten Probolinggo karena belum jelasnya ketentuan tata ruang.

“Kalau itu sudah selesai, saya yakin akan banyak investor yang masuk. Kita punya tol yang akan menjadi akses utama, mendekatkan dan memperlancar sirkulasi barang. Selain itu, kita juga punya Mal Pelayanan Publik yang bisa diandalkan dalam proses perizinan,” jelas mantan Kabag Umum itu.

Selain itu, Disnakestran juga mengintensifkan balai latihan kerja (BLK) dan tempat pelatihan mandiri lainnya. “Kami terus berusaha mendorong tumbuh kembangnya ekonomi kreatif untuk mengurangi pengangguran. Serta mengadakan bursa kerja yang rutin dilaksanakan,” tandas pria asal Malang itu. (cho/saw)