Habis Ponari, Terbitlah Ningsih Tinampi

2232
“Akankah perjalanan Ningsih Tinampi bakal seperti Ponari?”

Oleh : Gilang Erdyanata Putra 

SEKITAR tahun 2009, Indonesia sempat digemparkan dengan munculnya seorang anak yang bisa menyembuhkan orang sakit. Dia adalah Ponari, bocah yang saat itu berusia 9 tahun.

Dengan berbekal batu, tiap harinya Ponari membantu pasien-pasien yang datang ke rumahnya dengan metode yang terbilang sangat sederhana. Ia mencelupkan batu tersebut ke air yang sudah disiapkan masing-masing pasien. Setidaknya kisah fenomenal Ponari ini berhasil menarik atensi masyarakat Indonesia selama beberapa bulan.

Lalu pada pertengahan tahun 2019, Indonesia kembali digegerkan oleh sosok Ningsih Tinampi yang juga dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Viralnya Ningsih Tinampih bermula dari video yang rutin diunggah beliau pada kanal Youtubenya sendiri. Kanal tersebut kini telah mempuyai  1,79 juta subscribers.

Warga Indonesia semakin mengenal sosok Ningsih Tinampi ketika proses pengobatan yang dilakukannya sering diberitakan oleh media nasional. Bahkan salah satu TV swasta menjadikan Ningsih Tinampi sebagai salah satu konten utama tayangan.

Tentu saja karir Ningsih Tinampi  dipenghujung tahun 2019 sangat cemerlang. Pada tanggal 3 Desember 2019 terpantau tagar Bu NIngsih menjadi trending topic Twitter.

Imbasnya tentu saja pada calon pasien. Semakin banyak pemberitaan soal Ningsih Tinampi, pasien semakin membludak. Warga yang mau berobat, harus antre hingga Januari 2021.

Fenomena Ponari dan Ningsih Tinampi tidak bisa lepas dari sifat masyarakat Indonesia yang kerap kali memercayai hal-hal non medis. Padahal penanganan sebuah penyakit diperlukan observasi mendalam oleh tenaga medis agar pasien bisa sembuh dan tidak terlambat dalam penanganannya.

Belum lagi kabar mahalnya tariff yang harus dibayarkan pasien sekali berobat ke Ningsih Tinampi. Sekali berobat ke Ningsih, harusnya setara dengan pembayaran penanganan di Rumah Sakit milik pemerintah. Atau paling tidak bisa cukup untuk membayar premi asuransi kesehatan beberapa bulan.

Terlepas dari itu semua, bisa dibilang fenomena Ningsih Tinampi mengulang kisah sukses Ponari beberapa tahub silam. Benang merahnyapun sama yaitu seorang yang bisa membantu menyembuhkan orang sakit dengan cara-cara “sakti”.

Kita semua tahu, sebuah fenomena pasti mempunyai umurnya masing-masing. Seperti Ponari yang sekarang sudah hilang dari pemberitaan, lambat laun kisaH Ningsih juga akan meredup dengan sendirinya.

Namun demikian, walaupun kabar dari Ningsih Tinampi akan hilang dari peredaran, rasanya praktik pengobatan akan terus berjalan. Apalagi mengingat antrean sudah sampai 2021.

Tapi, perjalanan seseorang mana ada yang tahu? (*)