Tamu

1208

Cerpen

Saat tamu itu datang dan sudah masuk ke dalam rumah, saya keluar kamar, berjalan jinjit dan menempelkan telinga ke tembok.

Oleh Amal Taufik

SETELAH berkali-kali pindah kos, saya akhirnya mantap menyewa kamar di rumah seorang perempuan tua di pinggiran Bangil, Kabupaten Pasuruan.
Kamar itu berada di bangunan mungil yang terpisah dengan rumah induk tapi masih satu pagar, seperti bekas toko yang tak lagi digunakan. Masih tersisa etalase kaca dan kulkas dan beberapa toples tidak tertata di teras kamar.

“Kulkasnya bisa dimasukkan ke kamar. Dipakai saja tidak apa-apa. Daripada mangkrak,” kata Nidia, pemilik kos.
Ia keturunan Tionghoa. Taksiran saya, usianya mendekati 60 tahun. Orang-orang memanggilnya Cik Ni.

“Cik tinggal sendirian di sini?” tanya saya.
“Sekarang sama sampean,” jawabnya.
“Maksud saya, keluarga Tacik.”
“Siapa pun yang tinggal di dalam pagar ini saya anggap keluarga kok.”

Rumah Cik Ni terletak di pinggir jalan raya. Bangunannya bergaya zaman kolonial dengan tiang penyangga rumah yang besar dan langit-langit rumah yang tinggi. Pekarangannya cukup untuk parkir dua mini bus.

Baca Juga :   Cinta Pertama

Setiap berangkat kerja, saya selalu melihat Cik Ni duduk di teras rumahnya mengenakan daster berwarna merah motif bunga-bunga sambil memutar radio dan minum teh ginseng.
Ia selalu menyapa, “Hati-hati ya, Mas,” setiap kali saya membuka pagar. Para tetangga yang mondar-mandir di depan rumahnya pun juga disapanya semua.

Selama tinggal di rumah itu, saya tak pernah sekalipun mengetahui keluarga Cik Ni. Suaminya ke mana, anaknya berapa, siapa yang merawatnya selama ini. Ia sendiri selalu mengalihkan pembicaraan setiap saya tanya soal keluarganya.

Pernah beberapa kali saya diminta tolong untuk membetulkan pipa air atau televisi di dalam rumahnya. Saya melihat foto-foto yang terpajang di dalam rumahnya. Ada pigora berisi foto hitam putih sekeluarga. Saya tanya siapa mereka. Ayah, ibu, adik, dan kakak, begitu kata Cik Ni.

Baca Juga :   Pegon

Kadang-kadang datang beberapa orang secara bergantian ke rumah itu. Tapi mereka adalah kakak, adik, dan keponakan Cik Ni. Bukan suami atau anaknya.

Di warung kopi sekitar situ, saya sering mendapat cerita dari banyak orang soal Cik Ni. Saya merangkumnya menjadi dua versi. Yang pertama, Cik Ni adalah janda seorang juragan padi. Suaminya hilang menjelang reformasi karena terlibat mendanai organisasi petani dalam sengketa tanah melawan tentara.

Yang kedua, Cik Ni waktu muda pernah menjalin cinta dengan laki-laki selama 15 tahun, namun gagal menikah karena tidak mendapat restu dari orang tuanya. Karena peristiwa mengiris hati itu, ia frustasi dan tidak menikah sampai saat ini.

Tapi terlepas cerita mana yang benar, saya akhirnya mengetahui satu fakta yang orang-orang tidak tahu. Fakta ini saya ketahui setelah satu bulan tinggal di rumah ini.

Pada hari ke-32, Rabu dini hari, saya mendengar suara dentang engsel pagar, lalu derit pagar yang ditarik, lalu suara pintu diketuk.
Ada tamu. Saya mengintip lewat jendela.
Lampu rumah menyala. Terdengar suara pintu dibuka. Tamu itu rupanya sudah masuk ke rumah.
Awalnya saya acuh pada tamu itu, sebab saya pikir mungkin ia adalah saudara Cik Ni dalam perjalanan jauh dan kebetulan lewat Bangil, akhirnya mampir.

Baca Juga :   Arimbi

Namun, tak dinyana, pekerjaan yang membeludak memaksa saya lembur hingga dini hari. Seringkali saya baru terlelap setelah azan subuh. Akibat seringnya lembur itu, saya tahu, bahwa tamu itu ternyata sering datang. Dalam seminggu, satu sampai tiga kali ia datang. Dan ia selalu bertamu di atas jam 00.00.

Karena penasaran, suatu malam saya coba menguping dari dinding siapa tamu itu dan apa yang diobrolkan dengan Cik Ni. Saat tamu itu datang dan sudah masuk ke dalam rumah, saya keluar kamar, berjalan jinjit dan menempelkan telinga ke tembok.