Kolaborasi dengan NASA – LAPAN Pasuruan Luncurkan Balon Ozon Satu-satunya di Indonesia

867
Proses peluncuran balon oleh LAPAN untuk memantau kondisi atmosfer. Gambar diambil dari web NASA. Foto: Dokumen LAPAN.

 

Laporan: Miftahul Ulum

BALON Meteorologi milik LAPAN Pasuruan resmi diluncurkan ke angkasa, Rabu (27/1/2021). Balon berwarna putih berukuran sekitar 2 meter tersebut diluncurkan untuk penelitian ozon.

Sejumlah peneliti LAPAN Pasuruan berkumpul di halaman menyiapkan peluncuran balon. Setelah semua siap, aba-aba 1,2,3 balon lepas melambung ke angkasa dengan membawa Ozonesonde. Sebuah alat pengukur data ozon di lapisan atmosfer.

Data itu nantinya dikumpulkan untuk memahami keadaan atmosfer bumi. Selain itu, alat itu digunakan untuk memprediksi peningkatan kualitas udara, dan untuk validasi data satelit.

Peluncuran balon ini semakin istimewa, lantaran merupakan hasil kerjasama antara LAPAN Pasuruan dan NASA (National Aeronautics and Space Administration) atau Badan Penerbangan dan Antariksa milik Amerika Serikat. Sebagaimana telah mereka kerjasamakan sejak tahun 1998.

Kepala LAPAN Pasuruan Dian Yudha menjelaskan, kegiatan meluncurkan balon meteorologi dengan membawa sensor ozon merupakan satu-satunya kegiatan rutin yang dilaksanakan untuk memahami keadaan atmosfer bumi, memprediksi peningkatan kualitas udara, dan untuk validasi data satelit.

“Secara spesifik tujuan kegiatan ini adalah untuk memahami ozon dalam sistem Bumi. Sekaligus memahami peran ozon dalam perlindungan dari radiasi UV dan ozon yang bersifat sebagai polusi (di level permukaan),” jelasnya kepada WartaBromo.

Dian membeberkan, peluncuran balon ozon ini merupakan satu-satunya di Indonesia. Melalui proyek dari SHADOZ, NASA bekerjasama dalam lingkup Internasional dengan 14 titik peluncuran yang berada pada garis ekuator dan latitude rendah.

Khususnya, pada titik yang berada di belahan bumi bagian Selatan. Sekaligus, guna menyajikan data yang dapat diakses oleh semua pengguna.

“LAPAN Pasuruan merupakan satu-satunya stasiun di Indonesia yang memulai proyek dengan SHADOZ-NASA dari tahun 1998,” ungkap Dian.

Proyek kerjasama LAPAN-NASA ini merupakan bagian dari mempelajari konsentrasi berbagai konstituen atmosfer yang berkontribusi pada pemahaman lapisan ozon bumi, pembentukan, penguraian dan penipisannya. Sekaligus, kata Dian, untuk membantu mengkalibrasi dan memverifikasi sensor jarak jauh yang dipasang di satelit.

Dipilihnya LAPAN Pasuruan yang berada di Kabupaten Pasuruan untuk peluncuran balon ini, lantaran udara di atas LAPAN Pasuruan sangat sensitif terhadap kebakaran dari peristiwa El Nino dan letusan gunung berapi yang menyebabkan kerusakan ozon di stratosfer.

Pada saat gunung berapi meletus, gunung memuntahkan sulfur dioksida, yang diubah menjadi aerosol perusak ozon di atmosfer. LAPAN Pasuruan juga dekat dengan Surabaya, ibu kota Jawa Timur dengan kepadatan penduduk hampir 10 juta orang.

Adapun Ahli Kimia Astmosfer dan Ilmuan Senior untuk proyek SHADOZ NASA Anne Thompson menyebut, setiap stasiun memiliki karakteristik yang unik. “Setiap stasiun memiliki beberapa karakteristik unik yang membuat variasi alami ozon dan kejadian yang tidak biasa berbeda,” kata Anne, dikutip dari nasa.gov.

Ozonesonde yang diterbangkan bersama balon tersebut, guna mengukur ozon di atmosfer setiap 100 meter. Sehingga dapat memberikan gambaran terhadap keadaan ozon vertikal yang didistribusikan di atmosfer.

Selain ozonesonde, terdapat instrumen lain yang diluncurkan dengan balon, yakni instrumen yang digunakan untuk mengukur suhu, tekanan, dan kecepatan angin.

“Sehingga dari penelitian yang dilakukan, selain memahami ozon dalam sistem Bumi dan peran ozon dalam perlindungan dari radiasi UV, serta ozon yang bersifat sebagai polusi (di level permukaan). kita berharap dapat melihat dampak urbanisasi di wilayah tersebut, seperti peningkatan ozon troposfer,” urainya.

Ozon yang berada di bumi tidak semua bermanfaat, ozon yang berada di permukaan bumi justru bersifat polutan bagi manusia. Seperti dikutip dari website NASA, sekitar 90% ozon di atmosfer berada pada lapisan stratosfer dengan ketinggian 16 sampai 50 km ke atas.

Sisanya, sekitar 10% ozon berada pada permukaan atmosfer, yakni pada lapisan troposfer. Ozon pada lapisan stratosfer berfungsi melindungi bumi dari sinar UV radiasi matahari.

Sedangkan ozon yang berada pada lapisan troposfer bersifat sebagai polutan. Oleh sebab itu, Dian berharap kepada seluruh elemen masyarakat agar menjaga lingkungan.

“Mari kita bersama-sama menjaga lingkungan, tidak membakar sampah, tidak menggunakan produk yang dapat merusak lapisan ozon di stratosfer dan memulai aktivitas ramah lingkungan,” tandasnya. (asd)