Naik ke Level 3, Satgas Covid-19 Probolinggo Evaluasi Vaksinasi

652
Proses vaksinasi di Kabupaten Probolinggo.

Probolinggo (WartaBromo) – Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo mengevaluasi proses vaksinasi. Sebab, rendahnya capaian vaksinasi membuat daerah ini naik ke level 3 PPKM pada Selasa, 5 Oktober 2021.

“Evaluasi dilakukan untuk menentukan langkah akselerasi vaksinasi dan peningkatan 3T (testing, tracing, treatment), agar PPKM kembali turun ke level II,” sebut Jubir Ketua Pelaksana Satgas Covid-19, dr. Dewi Vironica pada Jumat, 8 Oktober 2021.

Ia mengatakan ada beberapa faktor yang melatari kembalinya wilayah setempat ke level 3. Yaitu, vaksinasi dosis pertama, vaksinasi lansia dan testing-tracing. Ketiga poin yang kini menjadi PR bagi pemerintah untuk segera dikejar.

Saat ini, vaksinasi dosis pertama sudah mencapai 405,116 atau 45.5% dari 890.667 total sasaran. Sementara dosis kedua mencapai 192,899 atau 21.7%. Sedangkan untuk lansia mencapai 20.597 atau 18.29% dari 112.618 total sasaran. Doses kedua baru mencapai 7.215 atau 6.41%.

Padahal untuk bisa kembali pada level 2, kata dia, target vaksinasi dosis pertama harus mencapai minimal 50 persen. Sedang vaksinasi lansia sebanyak 40 persen.

“Itu menjadi tugas bersama saat ini. Agar masyarakat berkenan untuk melakukan vaksinasi. Sehingga Kabupaten Probolinggo dapat kembali ke level 2 lagi,” ujarnya.

Dokter Viro menyebut kemampuan pelacakan ( tracing ) petugas Covid-19 di Kabupaten Probolinggo mentok di angka 10 orang. Padahal, semestinya mampu men-tracing setidaknya 15 orang. Supaya penyebaran Covid-19 dapat diminimalisir.

“Sebenarnya sudah banyak yang kami lakukan untuk itu. Namun selanjutnya kami akan melakukannya lagi lebih ekstra. Untuk itu perlu kerjasama sejumlah pihak untuk menekan vaksinasi ini,” katanya.

Ia menegaskan, target level 2 itu harus tercapai dalam dua pekan ke depan. Pihaknya harus kebut cepat untuk bisa mencapai target tersebut. Dengan menekan para petugas di kecamatan untuk melakukan metode jemput bola ke rumah warga. Agar warga tak perlu mendatangi fasilitas kesehatan (Faskes) atau pos kesehatan.

Upaya lain yakni memasifkan sosialisasi dan edukasi pada masyarakat. Agar masyarakat tidak mudah termakan informasi hoak vaksin. Sebab informasi hoak yang beredar di masyarakat seputar dampak negatif vaksin sulit untuk dibendung.

“Saat melakukan vaksinasi itu mereka harus menjemput bola, pun meski begitu mereka masih terkendala dengan masyarakat yang lebih Percaya dengan hoax. Jadi memang kita perlu meningkatkan sosialisasi, memahamkan mereka,” sebut dokter Viro.

Sosialisasi yang perlu disampaikan bahwa vaksinasi yang akan diterima masyarakat bukan karena sebagai syarat menerima bansos, tapi karena memang butuh untuk melindungi mereka dari paparan Covid-19.

“Manfaatnya (vaksinasi) itu bagi diri sendiri, jadi bukan karena bantuan bukan karena syarat layanan vaksinasi. Plt. Bupati Probolinggo telah menekankan pendekatan persuasif pada tokoh agama, tokoh masyarakat,” imbuhnya.

Tim Satgas Covid-19 Kabupaten Probolinggo memutuskan untuk meniru model dan pola pendekatan sosialisasi vaksinasi beberapa kabupaten/kota.

“Jadi nanti regulasinya itu akan diperbupkan yang notabene isinya itu seperti kewajiban. Karena vaksinasi ini program pemerintah, kita punya regulasi tertinggi yaitu undang-undang,” jelasnya. (saw/saw)