Bank Jatim Dorong UMKM Naik Kelas dan Mendunia

788
PEDULI UMKM: Deddy Aji Wijaya (kanan) saat memaparkan materi dihadapan puluhan pelaku UMKM Kota Pasuruan.

Pasuruan (Wartabromo.com) – Kontribusi Bank Jatim untuk mendorong Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terus dilakukan. Setelah meluncurkan program Kredit Usaha Rakyat Mandiri (KURMA), kali ini Bank Jatim bersama Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Pasuruan mendorong terciptanya UMKM naik kelas dan mendunia.

Menurut Pimpinan Bank Jatim Cabang Pasuruan, Deddy Ajie Wijaya, UMKM naik kelas yang dimaksud adalah harus memiliki tiga komponen. Pertama, harus dilakukan penguatan kelembagaan dan perizinan. Kedua, meningkatnya kapasitas produksi dan manajemen. Dan ketiga permodalan.

“Dari ketiga komponen itu, Bank Jatim setidaknya hadir pada dua elemen dasar. Yakni pada kapasitas produksi dan manajemen serta permodalan,” ujar Deddy saat berbicara di depan puluhan pelaku UMKM di hotel Transit Kota Pasuruan, Rabu (13/10).

Untuk permodalan, saat peluncuran program KURMA beberapa waktu lalu, Bank Jatim sudah memasukkan unsur digitalisi perbankan melalui program QRIS. Artinya, mereka akan dimudahkan dalam hal pembayaran tanpa cash (cashless).

MENDUNIA: Para pelaku UMKM didorong untuk memasarkan produknya melalui market place internasional.

Program yang dibuat khusus oleh Bank Jatim ini ditujukan untuk kredit usaha mikro dan kecil. Yang dimaksud usaha mikro, adalah mereka yang asetnya di bawah Rp 50 juta dan omzet Rp 300 juta ke bawah. Kemudian yang dimaksud usaha kecil, asetnya Rp 50 juta sampai Rp 300 juta dengan omzet Rp 300 juta sampai Rp 2,5 miliar.

Selama ini, dalam pandangan Deddy potensi yang dimiliki UMKM di Kota Pasuruan cukup besar. Bahkan, mampu dikembangkan pada skala yang lebih luas. Tinggal bagaimana melakukan pembinaan, pendampingan serta membantu manajemen pemasaran secara optimal kepada mereka.

Bahkan, lanjut Dedy, pihaknya juga siap untuk ngelink kan atau menghubungkan dengan market place yang mendunia. Sehingga, diharapkan produk-produk UMKM di Kota Pasuruan bisa dipasarkan secara ekspor ke luar negeri.

“Ayo, kami mendorong bapak ibu pelaku UMKM untuk mengenalkan UMKM mendunia. Kita punya potensi besar untuk itu. Kita punya Bukir, Logam atau Mutiara yang sudah terkenal. Dan ini perlu kita kawal untuk masuk pasar ekspor impor (eksim) melalui market place internasional,” tegas Deddy sambil mendapat aplaus meriah dari puluhan pelaku UMKM yang hadir.

Deddy cukup bersemangat untuk menyampaikan hal ini dihadapan pelaku UMKM. Karena salah satu sendi dan pilar ekonomi yang perlu diperhatikan adalah sektor UMKM. Apalagi, sesuai visi-misi Kota Pasuruan menuju Kota Madinah, salah satunya adalah Maju Ekonominya. Sehingga, sector UMKM harus didorong untuk ikut memajukan ekonomi di Kota Pasuruan ini.

Deddy menambahkan, untuk bisa masuk dalam market place internasional, tentunya barang-barang yang masuk harus sesuai standar ekspor. Untuk bisa standar, maka diperlukan coaching clinik UMKM, sinergitas dan juga pembentukan kelompok (asosiasi) UMKM yang kuat.

“Sehingga, pada saat ada pelatihan atau informasi penting, tinggal kelompok atau asosiasi UMKM itu yang terus berkoordinasi,” tegasnya.

MAJU EKONOMINYA: Bank Jatim dan Dinas Koperasi dan UM bersinergi dalam menerapkan program KURMA dan Si DUTA buat pelaku UMKM Kota Pasuruan.

 

Kegiatan pemberdayaan usaha mikro ini diinisiasi Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Pasuruan. Sedianya, kegiatan ini akan dibuka secara resmi oleh Walikota Saifullah Yusuf. Namun Gus Ipul juga diundang untuk mengikuti kegiatan upacara Hari Jadi Propinsi Jatim ke-76.

Kepala Diskop dan UM, Edy Ana Setyo Widodo, kegiatan yang dilakukan instansinya salah satunya untuk menindaklanjuti program Kurma milik Bank Jatim dan Si Duta dari instansinya. Si Duta memiliki kepanjangan dari Sistem Informasi Data UMKM.

“Kegiatan ini kami maksudkan untuk membangun motivasi kepercayaan diri dan kemampuan para pelaku usaha dalam mengembangkan usahanya. Sekaligus menggali kemampuan mengelola usaha dan mencari peluang pasar,” tegas Edy.

Soal dorongan agar pelaku usaha (UMKM) sudah membentuk asosiasi atau komunitas, Edy mengakui jika saat ini asosiasi itu sudah terbentuk. Mulai asosiasi usaha mamin, logam, mebel, handy craft dan lainnya. “Hanya saja, ini perlu kita efektifkan lagi. Bahkan, kita mau coba untuk membentuk di tingkat kecamatan-kecamatan. Agar mampu koordinasi dengan pelaku UM di skala kelurahan,” tegasnya. (day/*)