Kisah Pesantren Minhajul Muna: Sejahterakan Guru dan Petani dari Menanam Porang

957
Gapura Ponpes Minhajul Mina, Ponorogo. Pesantren ini sukses mengembangkan budidaya Porang untuk meningkatkankan kesejahteraan pengajar dan petani setempat. Foto: Amal Taufik.

 

Oleh: Amal Taufik

“Guru atau ustaz di sini itu sekaligus juga petani,” kata Sukarno, Ketua Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Minhajul Muna, sambil menunjukkan gudang berisi bibit-bibit porang. Melalui porang inilah, pesantren bisa membantu meningkatkan kesejahteraan guru dan petani.

Pondok Pesantren Minhajul Muna terletak di pelosok pegunungan Kabupaten Ponorogo, tepatnya di Dusun Sambi, Desa Ngrayun, Kecamatan Ngrayun. Untuk menuju pesantren ini harus melalui jalan berkelok, naik-turun, melewati rerimbunan hutan. Lokasinya berada di ketinggian 900 mdpl dan pesantren ini merupakan satu-satunya pesantren di Ngrayun.

Bangunannya sederhana. Ada satu gedung dua lantai yang terdiri dari beberapa ruangan. Itu adalah gedung utama pesantren. Dapur pesantren masih berada di luar, sehingga ketika ada aktitivitas di dapur, aroma masakan akan menguar ke mana-mana. Di sebelah kanan, kiri, depan, belakang, pesantren hanya berbatasan dengan areal pertanian dan hutan.

Pendiri sekaligus pengasuh pesantren, Aminudin mengaku, dulu ia sebenarnya tak pernah punya pikiran untuk mendirikan pesantren. Sebelum tahun 90’-an, Aminudin nyantri di beberapa pesantren, salah satunya di Ponpes Gontor. Selesai nyantri, ia pulang ke desanya dan di desa ia menjadi rujukan warga dalam belajar dan bertanya tentang agama.

Baca Juga :   Internet dari Desa, oleh Desa, untuk Desa

“Akhirnya pada tahun 1994 kita dirikan yayasan dan ponpes. Banyak yang tanya kenapa saya mendirikan pesantren di pelosok gunung? Saya bingung jawabnya. Ya, mungkin kersane Gusti Allah (kehendaknya Gusti Allah),” ujarnya.

Ketika awal didirikan, mencari pengajar yang, setidaknya, merupakan tamatan SMP sangat sulit. Jarang ada warga yang sekolah hingga SMP. Sebabnya, kata Aminudin, satu-satunya sekolah SMP di Ngrayun letaknya di dekat kantor kecamatan. Jarak dari desanya ke sekolah SMP tersebut lumayan jauh dan itu hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Namun, ketekunan, kesabaran, juga niat untuk mengabdi kepada masyarakat melampaui keterbatasan itu. Pendidikan di Pesantren Minhajul Muna berjalan. Pendidikan formal dibuka. Warga sekitar akhirnya banyak yang menyekolahkan anaknya di sana. Tingkat pendidikan warga sekitar pun terangkat. Bahkan kini pesantren bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Ponorogo membuka kelas sarjana di pesantrennya.

Baca Juga :   Butiknya Tutup Dihajar Pandemi, Duo Dara Probolinggo Justru Sukses Jual Beras Instan

“Orang pintar di sini banyak. Tapi orang yang mau peduli, prihatin, dengan keadaan sekitar jarang. Alhamdulillah Allah memberi saya jalan,” kata Aminudin.

Budidaya tanaman Porang yang dikembangkan Ponpes Minhajul Mina, Ponorogo. Foto: Amal Taufik.

Aminudin adalah kiai yang berpikiran maju. Walaupun pesantrennya di pelosok pegunungan, ia ingin santri-santrinya memiliki ilmu yang mumpuni dan memiliki jaringan yang luas. Beberapa dari mereka pun dikirim ke luar kota, luar negeri, untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Tidak sedikit dari mereka yang setelah selesai mengenyam pendidikan di luar kota kembali ke pesantren lagi untuk mengajar.

Dan sekarang, sejak menjadi mitra Astra, santri di Pesantren Minhajul Muna turut dilibatkan dalam mengelola porang. Mereka dilibatkan mulai penanaman, memanen, mengangkut dan menimbang hasil panen, hingga proses jual beli.

Perkenalan Pesantren Minhajul Muna dengan Astra bermula pada tahun 2019. Sukarno, yang merupakan ketua yayasan pesantren mengajukan program CSR Astra yang berbasis pertanian atas nama pesantren.

Porang ketika itu mulai menjadi komoditas primadona bagi para petani di Kecamatan Ngrayun. Hampir semua petani menanam porang. Menurut Sukarno, selain karena perawatannya mudah, harga porang pada waktu itu sedang bagus- bagusnya. Sukarno berharap dengan bermitra dengan Astra, potensi porang di Ngrayun dapat berkembang.

Baca Juga :   Mustahid, Local Hero yang Kelola Sampah hingga Hasilkan Maggot BSF

Harapan itu rupanya disambut baik oleh Astra. Tahun 2019 Astra memberikan bantuan modal kepada pesantren yang kemudian dirupakan bibit porang. Bibit porang itu kemudian dibagikan secara gratis kepada 35 mitra pesantren yang terdiri dari masyarakat, petani, dan sebagian lagi guru pesantren sendiri.

Skema kerja samanya, nanti ketika bibit-bibit itu sudah panen, petani akan menjualnya ke pesantren dan setelah itu oleh pesantren dijual lagi ke pabrik. Progres kerja sama seperti ini berjalan baik. Saat panen pertama, porang yang dihasilkan hampir mencapai 100 ton.

“Kalau dulu harga Rp10 ribu per kilogram kita beli ke petani. Kita jualnya nanti selisih sedikit. Misalnya kita kirim 1 rit truk kapasitasnya 9 ton porang, berarti kita bayarnya Rp90 juta ke petani,” kata Sukarno.