Sodoran, Eksistensi Adat Budaya Tengger yang Lestari

127
Sodoran, Eksistensi Adat Budaya Tengger Yang Lestari

Sukapura (WartaBromo.com) – Sodoran, menjadi satu bagian penting dalam perayaan Hari Raya Karo Suku Tengger di Probolinggo. Sodoran, melambangkan awal mula manusia, serta bagaimana mensyukuri kehidupan yang ada. Menjadikan Sodoran sebuah eksistensi adat budaya Tengger yang harus dilestarikan.

Sodoran tahun ini, dilaksanakan di Balai Desa Jetak, Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Tak hanya warga sekitar saja yang kini menikmati sajian budaya itu. Wisatawan lokal dan mancanegara pun, tertarik untuk mengikuti sampai selesai.

Berdasarkan catatan sejarah Tengger, Sodoran memegang makna penting. Merupakan ritual suci yang melambangkan pertemuan dua bibit manusia. Yakni laki-laki dan perempuan yang mengawali kehidupan di alam semesta. Pertemuan dua manusia itu, diyakini merupakan Joko Seger dan Roro Anteng, yang dipercaya sebagai cikal bakal tumbuhnya masyarakat Tengger.

Baca Juga :   Dinilai Punya Peran, Ketua Gerindra Akan Dihadirkan ke Sidang Pemalsuan Ijazah Anggota Dewan

“Sangat menarik, ini pengalamanku menyaksikan ritual tradisional seperti ini, sangat menarik dan aku tidak pernah melihat tarian selama ini. Orang-orangnya juga sangat baik, sangat terbuka pada siapapun, termasuk aku. Kemarin aku menyempatkan diri untuk ke kawah, luar biasa,” tutur Syna, wisatawan asal Denmark, dalam Bahasa Inggris, Minggu (14/08/2022).

Sementara itu, Yayuk Windarti, wisatawan asal Solo menyebut, perayaan karo dan Sodoran merupakan representasi dari kekerabatan warga Tengger. “Bentuk pemeliharaan budaya, kan ada tiga desa yang menyelenggarakan setiap tahunnya, dan masyarakat begitu antusias untuk selalu mengikuti ritual ini,” katanya.

Yayuk sendiri, sudah ketiga kalinya datang dan menikmati sajian adat budaya Tengger. Terutama rangkaian Yadnya Karo. Ia bahkan menyelesaikan tesis untuk gelar magister Antropologinya di Universitas Indonesia, dengan meneliti adat budaya Tengger.

Baca Juga :   Berboncengan, 2 Pria Bernama "Satu" Terluka Ditabrak Motor

Di mata Yayuk, sebagai sesama Bangsa Indonesia, masyarakat Tengger merupakan masyarakat yang harmonis. Egaliter dan sering berbagi dengan sesama. “Mereka juga bisa menciptakan ikatan diluar batas darah, melalui ritual-ritual yang dilakukan,” tandasnya.

Perayaan Yadnya Karo tahun ini pun menjadi yang paling meriah. Setelah dua tahun pandemi covid-19, hanya digelar terbatas untuk warga Tengger saja. Wisatawan yang datang berharap, ada sebuah sajian budaya yang lebih terstruktur. Berupa jadwal kunjungan yang ditetapkan seiring dengan pelaksanaan ritual adat budaya setempat.

Sehingga saat datang ke kawasan Bromo, tidak hanya menikmati keindahan alamnya saja. Melainkan ada jadwal khusus, berupa sajian adat budaya setempat. Tentunya, tidak ada di daerah lain. (lai/saw/may)