ASN Kalau Kreatif, Limbah Kertas Semen Bekas Bisa Dirubah Jadi Tas Ecoprint

214

Pasuruan (WartaBromo.com) – Berkat tangan kreatif seorang pria asal Kelurahan Bugul Lor, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan bernama Soli Rahmadi (53), Limbah semen bekas mampu dirubah menjadi tas ecoprint yang bernilai seni tinggi.

Ya, ditemui wartabromo di rumahnya yang berukuran kurang lebih 3×4 itu, Rahmadi nampak sibuk mengerjakan beberapa kerajinan, mulai dari batik hingga kerajinan ecoprint.

Ecoprint adalah salah satu teknik cetak dengan pewarnaan kain alami yang cukup sederhana namun dapat menghasilkan motif yang unik dan otentik.

“Ini bisa dilihat sendiri, banyak batik, banyak ecoprint, mulai dari bahan dasar kain hingga kulit,” kata Rahmadi saat ditemui di tempat kerjanya.

Pria yang juga bekerja sebagai ASN di Kelurahan Bugul Lor itu mengembangkan kerajinan ecoprint dari limbah kertas semen yang tidak terpakai. Menurutnya, prinsip pembuatannya yang terpenting adalah melalui kontak langsung antara daun, bunga, batang atau bagian tubuh lain yang mengandung pigmen warna dengan media kain tertentu.

Baca Juga :   Menyesal Bunuh Tetangga Sendiri, Ali Minta Maaf ke Keluarga Korban

Diungkapnya, ia mulai tertarik dengan kerajinan ecoprint ini sejak ditunjuk sebagai pembuat kostum karnival pada kegiatan pelatihan batik di Solo pada pertengahan 2017 yang lalu.

“Dari situ saya ingin merubah image batik di pasuruan, selain batik juga ada kerajinan alami yakni ecoprint,” katanya.

Cara pembuatan tas dari bahan bekas kertas semen itu cukup lama. Diawali dengan cara merendam kertas semen dengan air tawas, air kapur dan juga dicampur batu tunjung sekitar 15 menit.

Setelah kertas semen tersebut sudah basah, baru ditempelkan dengan beberapa daun mulai dari daun jarak, daun jaranan, daun zenetri, jarak wulung dan daun lanang.

“Kita menggunakan daun yang memiliki zat tanim (warna) kuat, jadi hasilnya lebih bagus dan benilai seni tinggi,” jelasnya.

Baca Juga :   Resmikan Rusunawa, Hasani: Anak-anak Rusunawa Harus Bisa Ngaji

Setelah ditempel dengan beberapa daun, langkah selanjutnya adalah tutup dengan plastik lalu di gulung se padat mungkin dan ditali rafia.

Untuk proses intinya adalah, gulungan kertas semen dan beberapa daun itu kemudian di kukus menggunakan api sangat kecil dalam waktu kurang lebih 1 jam setengah.

“Proses intinya disitu, dikukus api kecil, setelah selesai nanti warna yang dihasilkan dari daun tersebut akan keluar,” tandasnya.

Setelah dikukus, kertas bekas semen kering itu kemudian ditempelkan dengan spon neva. Hal itu dilakukan agar kualitas tas yang dibuat bagus.

“Dilapisi dulu, kan kertas, kemudian ditambah spon neva ini. Setelah itu baru kita proses mal untuk membuat tas seperti yang kita inginkan,” pungkasnya.

Baca Juga :   Satu Kecamatan di Kota Pasuruan Dijadikan Kampung Restorative Justice

Soli menyebut jika kerajinan yang ia buat sudah banyak diikutkan beberapa pameran di Jawa Timur dan beberapa daerah lainnya. (don/yog)