Derita Asriyatun: 4 Tahun Bekerja Penuh Siksa, Gaji pun Tak Dibayar

203

Pakuniran (WartaBromo.com) – Asriyatun (41), Warga Desa Glagah, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo diduga menjadi korban perdagangan manusia (Human Trafficking). Ia disiksa dan tak gaji majikannya di Malaysia.

Kabar pilu itu, benarkan oleh Camat Pakuniran Imron Rosyadi. “Informasinya saya dapat dari TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan. Red), sekarang kami sedang mengupayakan penjemputan,” katanya, Selasa (4/10/2022).

Dari penelusuran, korban berangkat ke Malaysia sekitar 4 tahun lalu. Bermula ketika ia mendengar lowongan pekerjaan di negeri Jiran. Bertekat mengubah perekonomian keluarga, Asriyatun pun menemui agen TKI.

Tanpa proses yang ribet, ia pun diberangkatkan bersama 2 orang laki-laki yang tak dikenalnya melalui Bandara Juanda Surabaya. Mereka menuju Kota Batam sebagai transit sebelum ke Malaysia. Di kota yang berstatus Badan Otorita Batam (BP Batam) itu, ia mendapat paspor pelancong.

Baca Juga :   TKW Probolinggo Meninggal dalam Apartemen di Singapura

Tanpa dilengkapi dokumen ketenagakerjaan, ia pun bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) pada salah satu keluarga. Tanpa adanya surat perjanjian kerja, ia tak mendapat upah.

Pun kerap mendapat siksaan fisik dari majikannya. Sehingga ia terpaksa melarikan diri sampai akhirnya menemukan majikan baru.

Bak lepas dari kandang singa, ia masuk ke kandang macan. Setali dengan majikan terdahulu, majikan keduanya juga kejam. Asriyatun dipekerjakan tanpa menerima bayaran sepeserpun. Siksaan fisik juga kerap ia terima.

Hingga pada suatu hari, Asriyatun berhasil kabur dari rumah majikannya. Sampai kemudian, ia ditemukan oleh petugas Konsulat Jenderal RI Johor Bahru. Lantas dipulangkan melalui Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Tanjungpinang pada 21 Juni lalu.

Baca Juga :   Komisi IV DPRD Pertanyakan Nasib TKW Pasuruan ke BNP2TKI

Korban diantarkan oleh Polresta Tanjungpinang ke Rumah Singgah Dinas Sosial (Dinsos) setempat pada 3 Juli. Bekerja sama dengan International Organisation of Migration (IOM), pihak Dinsos Tanjungpinang lantas memberangkatkan korban ke Surabaya dan dijadwalkan tiba Rabu, pukul 16.00.

“Rencananya besok dijemput di Juanda, dalam hal ini kami sudah minta bantuan ke Baznas (Badan amil Zakat Nasional, Red). Kami juga sudah komunikasi dengan keluarga. Keluarganya pun sudah siap menyambut, karena memang sudah lama terpisah,” tutur Imron. (cho/saw/asd)