Apa Itu Upacara Yadnya Kasada? Simak Penjelasannya di Sini!

102

Pasuruan (WartaBromo.com) – Bagi masyarakat Hindu Suku Tengger di Jawa Timur, ada suatu adat yang dirayakan setiap Bulan Kasada hari-14 dalam penanggalan kalender tradisional Hindu Tengger, adalah Upacara Yadnya Kasad.

Apa itu upacara Yadnya Kasada?

Kasada merupakan sebuah Upacara persembahan atau sesajen untuk Sang Hyang Widhi dan para leluhur. Upacara adat ini digelar di Pura Luhur Poten, tepat di kaki Gunung Bromo, pada tengah malam hingga dini hari.

Upacara Yadnya Kasada merupakan ritual adat yang diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Nah, Suku Tengger pada upacara ini akan mempersembahkan hasil tani dan ternak kepada Sang Hyang Widhi dan para leluhur dengan cara dilarung di kawah Gunung Bromo.

Baca Juga :   Pemkab Probolinggo Dukung Trail di Laut Pasir Bromo, Asal...

Dalam sejarah, upacara ini muncul karena masyarakat Tengger percaya bahwa mereka adalah keturunan dari leluhur mereka Rara Anteng dan Joko Seger.

Adapun cerita singkatnya yakni, dikisahkan bahwa Joko Seger adalah seorang putra Brahmana dari kerajaan Majapahit Kuno yang bertemu dengan Roro Anteng, seorang putri dari kerajaan Brawijaya Singasari.

Mereka saling jatuh cinta dan menikah, kemudian membangun sebuah negeri di lereng Gunung Bromo yang dikenal sebagai tanah Tengger.

Setelah dua puluh tahun menikah tanpa dikaruniai anak, Joko Seger dan Roro Anteng memutuskan untuk bertapa di Gunung Bromo.

Setelah sekian lama bertapa, mereka mendengar suara dari Gunung Bromo yang mengatakan bahwa jika mereka dikaruniai anak, maka anak terakhir mereka harus dijadikan persembahan bagi kawah Bromo.

Baca Juga :   Guyub Rukun ala Masyarakat Tengger; Potret Kearifan Lokal di Era Digital

Akhirnya, mereka dikaruniai 25 anak. Namun, mereka lupa akan janji mereka terhadap Gunung Bromo.

Suatu hari, ketika ke-25 anak mereka sedang bermain di lautan pasir Gunung Bromo, anak bungsu Joko Seger dan Roro Anteng tiba-tiba hilang.

Kemudian terdengar suara dari anak bungsu mereka, Raden Usuma, yang berkata, “Jangan mencari saya, hidup saya sudah enak di sini. Nanti jika sudah waktunya, anak cucu saya harus mengirim sesajen berupa hasil bumi pada bulan ke-15 malam ke-16 bulan Kasada.” (jun)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.