Wakil kita itu, egoisnya ngalah-ngalahi kucing rebutan ikan asin. Rakyat susah cari beras murah, mereka malah sibuk ngatur gaji sendiri. Rakyat bingung cari kerja, mereka malah sibuk cari proyek. Rakyat antre minyak, mereka antre ‘perjalanan dinas’. Wes, pol!”
Oleh : Abdur Rozaq
Negara Cak Manap membara! Rakyat marah karena beberapa hal. Selain ekonomi sedang laep dan pajak mencekik, eh, tiba-tiba ada parodi maha lucu di ibu kota sana. Segerombolan orang yang memiliki kekuasaan tanpa batas, yang bisa menaikkan gajinya sendiri berapa pun mereka mau, yang apabila keinginannya dihalangi akan menciptakan undang-undang sebagai senjata, berpesta pora setelah –sekali lagi—menaikkan gaji dan tunjangan demi usus mereka sendiri. Mereka berjoget-joget merayakan kemenangan, karena para jelata takkan berkutik untuk menghalangi mereka. Jangankan mendemo, mengkritik di media sosial saja bisa diborgol, karena senjata undang-undang sudah dipersiapkan untuk mengantisipasi hal itu.
Namun, kali ini ternyata mereka apes. Para jelata yang sudah muak, tercekik dan mulai lapar, akhirnya melawan. Orang-orang hebat yang berjoget di ibukota itu mungkin lupa, jangankan pengecut seperti mereka, wong tentara penjajah Belanda, penjajah Inggris, sekutu bahkan tentara penjajah Jepang saja, bisa dilumat kalau rakyat sudah terlanjur sakit hati. Mereka lupa jika perut yang keroncongan, merupakan solidaritas pemersatu bangsa. Meski, tentu saja para provokator, penghianat dan antek asing ikut ngobong-ngobongi.
Fatalnya, karena smartphone lebih banyak digunakan untuk main judi online, mengajukan pinjol atau membuka situs terlarang, masyarakat belum saja jenius. Amarah mereka masih saja salah sasaran, malah membumi hangus faislitas negara, yang dibangun dari pajak yang mereka bayar. Di berbagai kota, entah siapa tiba-tiba mengkomando untuk membakar aset-aset negara. Rakyat yang marah, apalagi ditunggangi para pengadu domba dan tukang makar yang menysusup, “menyalakan api unggun” di berbagai propinsi. Nanti kalau investor kabur, pabrik-pabrik tutup, pengangguran makin banyak, antek asing masuk dan negaranya bubar, baru tahu rasa.
Cak Manap dan para peminum kopi sedikit terhibur ketika di Youtube berseliweran berita api unggun dan “perampasan aset” di rumah salah satu orang hebat yang pernah mengatakan para pendemo tolol. Entah Cak Manap sudah menjadi psikopat, melihat aksi penjarahan malah bergembira. Malamnya, ada lagi berita “silaturrahmi” masyarakat ke rumah salah satu orang hebat mantan pelawak yang konon menjadi wakil para jelata. Kontan saja suasana di warung Cak Sueb makin jenaka. Tak ada kekhawatiran sama sekali, padahal negara mereka di ujung tanduk. Terlambat sedikit, bisa menjadi seperti Suriah. Namun, suasana di warung Cak Sueb memang benar-benar lucu. Mereka malah cekakaan seraya minum kopi.
“Wakil kita itu, egoisnya ngalah-ngalahi kucing rebutan ikan asin. Rakyat susah cari beras murah, mereka malah sibuk ngatur gaji sendiri. Rakyat bingung cari kerja, mereka malah sibuk cari proyek. Rakyat antre minyak, mereka antre ‘perjalanan dinas’. Wes, pol!” Celetuk Mahmud Wicaksono seraya merazia kotak rokok Cak Paijo LSM.
“Betul cak! Egois plus licik! Undang-undang iso dioplos sak karepe, kayak tukang es degan campur air keran. Yang diuntungkan hanya teman-temannya sendiri. Rakyat? Cuma disuruh sabar, sabar, sabar. Lah sabar kok disuruh tiap hari, rakyat iki opo malaikat?” Celetuk Cak Paijo LSM. Semua ngakak.
Gus Karimun yang beberapa hari ini juga hilang kesabaran, ikut nyeletuk. “Menurutku, mereka itu kayak sandal jepit, Cak. Pas kampanye, mereka nempel terus di kaki rakyat. Tapi begitu terpilih, sandal pedot, rakyat dibiarkan nyeker. Bedanya, sandal jepit kalau hilang bisa beli lagi di pasar. Wakil kita kalau hilang? Lah, hilang e cuma pas rakyat butuh, tapi nongol terus pas minta dipilih.” Semua terbahak. Wak Takrip sampai keselek kopi.
Wak Takrip yang biasanya pendiam, tiba-tiba bersuara pelan tapi nyelekit. “Mereka itu kemaruk benar sama kursi. Kursi lebih penting ketimbang rakyat. Padahal rakyat yang bikin mereka bisa duduk di kursi itu.”
“Dalam keadaan genting begini, saya kok malah teringat Mbah Abdul Hamid Pasuruan,” celetuk Gus Karimun.
“Andai beliau masih sugeng, mungkin beliau bisa menasehati para penguasa itu. Mereka kan sering sowan Mbah Hamid kalau mau nyalon atau terkena masalah? Andai Mbah Hamid masih sugeng dan mereka sowan kepada beliau, mungkin Mbah Hamid bisa memperbaiki ahlak mereka. Atau, andai ada satu saja dari mereka yang meneladani ahlak Mbah Hamid,” ujar Gus Karimun berhayal.
“Tidak mungkin, gus!” Protes Mahmud Wicaksono tegas. “Bedanya seperti langit dan bumi, gus. Janji mereka manis tapi palsu, Mbah Hamid tidak pernah mengumbar janji, tapi orang percaya. Mereka tidur di springbed empuk, Mbah Hamid jarang tidur, mendoakan umat. Mereka sibuk mikir dompet, Mbah Hamid mikir umat.”
“Betul. Mbah Hamid hidup sederhana, tapi setiap orang merasa teduh dekat beliau. Wakil kita itu hidup mewah, tapi rakyat malah resah,” tegas Wak Takrip.
“Mbah Hamid itu senjatanya doa. Diam-diam, tapi manjur. Wakil kita itu senjatanya drama: gebrak meja, teriak-teriak, pura-pura marah. Bedane, doa bikin tenang, drama bikin pusing,” tutur Gus Karimun. Semua ngakak lagi.
“Intinya, wakil kita itu harus belajar. Nek gak bisa niru semua, minimal separo sifat Mbah Hamid. Hidup sederhana, mikir umat, nggak usah neko-neko. Orang tulus itu meski tanpa jabatan, tetap dihormati. Wakil kita meski jabatannya tinggi, kalau egois, tetap dibenci rakyat.” Warung Cak Sueb mendadak hening. Semua merenung, sambil memperhatikan ampas kopi yang seperti nasib mereka. Mahmud Wicaksono tiba-tiba ngakak saat melihat massa melelang kasur hasil jarahan massa dari rumah seorang –konon—wakil rakyat di Youtube.
“Akhirnya, rakyat melakukan perampasan aset dengan cara mereka sendiri,” celetuknya seraya masih terpingkal-pingkal. Sementara Gus Karimun, melihat aura begitu gelap dan mengerikan di atas langit negara Wak Takrip.
*Hanya fiksi semata, nama dan peristiwa hanya kebetulan.