Gus Karimun ini memang aneh. Banyak kebiasaan dan cara hidupnya yang tidak sama dengan orang kebanyakan. Salah satunya, kegembiraan dan kesedihan Gus Karimun tidak sama dengan kebanyakan orang. Kebanyakan orang kan, jelang bulan Ramadhan itu sedih karena harus berpuasa dan aktivitas jadi lebih terbatas? Sebaliknya, kebanyakan orang merasa gembira saat lebaran. Tapi Gus Karimun tidak. Menjelang puasa malah gembira pol-polan, saat lebaran malah sedih. Bahkan wajahnya selalu kuyu ketika muncul di warung. Lha saat perayaan tahun baru kemarin juga begitu. Orang se-dunia pesta pora, bahkan Cak Paijo dan Mahmud Wicaksono melekan, bakar-bakaran ikan menyambut pergantian tahun. Gus Karimun malah bertangisan di surau kecil sebelah rumahnya. Wak Takrip yang sholat Isya kemalan dan sholat di surau sekaligus tahajjud, melihat Gus Karimun malah menangis sejadi-jadinya. Lebih memilukan dari tangisan caleg gagal yang sudah menjual semua aset bahkan menggadaikan sertifikat rumahnya.
“Saya melihat Gus Karimun menangis sampai geru-geru,” kisah Wak Takrip di warung Cak Sueb. “Kopyahnya sampai lepas karena terlalu menunduk. Sejadahnya sampai mamel kena tetesan airmata. Makanya saya tak berani menyapa karena takut mengganggu,” sambung Wak Takrip.
“Masa ada keluarga jauh Gus Karimun yang meninggal?” tanya Cak Soleh las.
“Kalau ada keluarganya yang meninggal, kita pasti tahu. Di mesjid-mesjid pasti ada berita duka karena hampir semua keluarga beliau merupakan kiai atau tokoh masyarakat. Lha di group-group WA kan tidak ada berita duka,” ujar Cak Sueb, masuk akal.
Lha dhumadakan, Gus Karimun malah muncul di warung kopi. Uluk salam dengan suara parau dan mata masih sembab. Semua orang tak ada yang berani bertanya. Tapi Cak Paijo LSM yang memang terkenal ndlodog malah tanpa segan langsung bertanya.
“Kok sepertinya kuyu, gus? Baru bangun tidur atau sakit?” tanya Cak Paijo LSM.
“Ini malah beberapa malam belum tidur, cak. Dan alhamdulillah saya sehat-sehat saja. Hanya saja, di sini ini ada yang sakit,” ujar Gus Karimun seraya menunjuk dadanya.
“Gejala paru, gus?” tebak Wak Takrip khawatir.
“Lebih parah. Bukan paru, tapi di dalam yang sakit. Bukan sakit, sedih tepatnya.” Kata Gus Karimun serius.
“Walah, kok dengaren sampeyan bisa merasa sedih? Tahun baru kok malah sedih. Ini kan lembaran baru, kita sambut tahun yang baru dengan semangat yang baru,” kata Cak Paijo LSM.
“Justru tahun baru itu yang saya tangisi,” ujar Gus Karimun lemas. Semua orang ternganga heran.
“Lha kok aneh sih, gus?”
“Lha semakin tahunnya bertambah, umur kita kan malah berkurang?” ujar Gus Karimun. Seisi warung terdiam.
“Kalau kemarin Cak Paijo berusia 47 tahun, tahun ini kan berusia 48 tahun? Mata makin kabur, uban makin banyak, gigi makin banyak yang protol, tempur sama istri harus dibantu jamu dulu. Iya kan?” Semua orang tersentak dengan fakta yang dipaparkan Gus Karimun.
“Apalagi, berita di TV dan media sosial kok semakin berita buruk semua. Seakan para wartawan tak pernah menemukan berita baik di dunia ini. Perang Rusia-Ukraina belum selesai, kini Arab dan Yaman jotosan, Amerika membegal Venezuela, Iran bangkrut, sementara kecamatan Israel malah meluncurkan senjata barunya. Thailand dan Kamboja kehabisan tenaga, Cina dan Taiwan malah saling pasang kuda-kuda buat jotosan.”
“Sementara di dalam negeri, drama ijazah palsu makin lucu, Sumatera belum pulih provokator atas nama GAM berulah, UU Perampasan Aset Koruptor tak jelas juntrungnya, UU subversif sudah disahkan buru-buru. Dan setiap jam, kita selalu waspada kapan megathrust terjadi.”
“Semakin tahun bertambah, artinya kematian dan kiamat makin dekat. Krisis air makin nyata. Iran dan Pakistan krisis air, suhu bumi dan air laut terus naik, pengangguran internasional meningkat, NATO dan Rusia malah siap-siap meluncurkan petasan agar bumi lebih cepat terbakar. Apa gak kudu nangis?” Mahmud Wicaksono lemas di atas lincak bambu, Cak Paijo LSM berhenti cengengesan.
“Mercon nuklir disulut, bumi seketika bisa kering kerontang. Kalau tanaman dan binatang punah, kelaparan global akan membuat manusia bacokan demi segenggam beras. Kalau bumi sudah benar-benar mati, Dajjal pun muncul. Wong tanda-tanda kemunculannya kian nyata.”
“Ya jangan meden-medeni, begitu gus,” ujar Cak Paijo LSM tak bisa menerima kenyataan.
“Lha fakta ilmiahnya kan sudah cocok dengan hadits, cak?”
Maka, seisi warung perlahan diterkam kesedihan sesuai kadar iman dan akal masing-masing. Mahmud Wicaksono lama terdiam, sementara Cak Paijo malah sudah main HP tak lama kemudian.





















