Canggih Tapi Haus Air, Ini Dampak Tersembunyi di Balik Teknologi AI, Yuk Simak!

33

Pasuruan (WartaBromo.com) – Dampak AI terhadap air bersih kini menjadi ancaman serius di balik pesatnya perkembangan teknologi digital. Sayangnya, banyak masyarakat belum menyadari risiko lingkungan dari penggunaan kecerdasan buatan.

Mengutip oecd-ai, laporan Government Digital Sustainability Alliance (GDSA) memprediksi konsumsi air pusat data AI akan meningkat tajam dalam beberapa tahun ke depan. Lonjakan ini terjadi seiring pertumbuhan layanan berbasis kecerdasan buatan di berbagai sektor.

Setiap aktivitas pengguna pada sistem AI mendorong pusat data bekerja lebih keras dan membutuhkan air dalam jumlah besar. Perusahaan teknologi menggunakan air sebagai pendingin server agar sistem tetap stabil saat memproses jutaan permintaan setiap hari.

GDSA mencatat, model bahasa besar seperti GPT-3 menghabiskan sekitar 700.000 liter air selama fase pra-pelatihan. Model ini menjadi fondasi pengembangan ChatGPT yang kini digunakan secara luas di berbagai negara.

Laporan tersebut memperkirakan konsumsi air akibat AI akan meningkat hingga 5,5 kali lipat pada 2027. Penggunaan air global diproyeksikan naik dari 1,1 miliar menjadi 6,6 miliar meter kubik dalam kurun waktu tersebut.

Di Amerika Serikat, studi juga menunjukkan lonjakan konsumsi air industri AI yang signifikan. Pada 2027, kebutuhan air sektor AI diperkirakan mencapai empat hingga enam kali lipat dari total konsumsi tahunan negara Denmark.

“Semakin banyak AI digunakan, semakin besar konsumsi air,” kata Prof. Shaolei Ren.

Peneliti University of California, Riverside itu menegaskan bahwa pertumbuhan industri kecerdasan buatan berbanding lurus dengan tekanan terhadap sumber daya air.

Meski menjadi pemain utama, perusahaan teknologi belum sepenuhnya terbuka terkait konsumsi air untuk operasional AI. Namun, laporan keberlanjutan menunjukkan tren peningkatan signifikan sejak 2020 pada sejumlah perusahaan teknologi global.

Google, Meta, dan Microsoft tercatat mengalami lonjakan penggunaan air dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, konsumsi air Google hampir berlipat ganda dibandingkan periode sebelumnya.

Sementara itu, Amazon Web Services (AWS) belum mempublikasikan data rinci konsumsi air pusat data AI. Hingga kini, AWS juga belum merilis laporan khusus terkait penggunaan air untuk layanan kecerdasan buatan.

International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi air pusat data akan meningkat dua kali lipat pada 2030. Perhitungan ini mencakup kebutuhan air untuk pembangkitan listrik dan produksi chip komputer pendukung AI.

Pada 2024, pusat data Google menarik sekitar 37 miliar liter air untuk operasional. Dari jumlah tersebut, sekitar 29 miliar liter dikonsumsi dan diduga hilang melalui proses penguapan saat pendinginan server.

Dampak AI terhadap air bersih ini memicu kekhawatiran di tengah krisis air global. Tanpa regulasi ketat dan transparansi industri, ekspansi AI berpotensi memperparah kondisi wilayah yang sudah rentan kekeringan. (jun)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.