Superflu Pasca Pandemi Masuk Radar Kewaspadaan Kesehatan Publik di Kota Probolinggo

31
Ilustrasi pemakaian masker di ruang publik untuk mencegah penularan flu. Foto : Aria Browser AI

Probolinggo (WartaBromo.com) – Isu superflu mulai masuk dalam radar kewaspadaan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kota Probolinggo sebagai bagian dari tantangan kesehatan publik pasca pandemi COVID-19.

Meski hingga kini belum ditemukan kasus flu berat di wilayah tersebut, pemerintah daerah menilai kewaspadaan dini tetap diperlukan, terutama di tengah cuaca yang tidak menentu.

Kepala Dinkes P2KB Kota Probolinggo, dr. Intan Sudarmadi, mengatakan pandemi COVID-19 telah memengaruhi dinamika penyakit pernapasan.

Mutasi virus menjadi fenomena yang perlu dipahami masyarakat agar tidak menimbulkan kepanikan, namun tetap direspons dengan langkah pencegahan yang tepat.

“Pasca pandemi, memang ada kekhawatiran terkait munculnya flu yang lebih berat. Tetapi sampai sekarang, kami belum menemukan kasus superflu di Kota Probolinggo,” kata Intan, Rabu (7/1/2026).

Menurut dia, istilah superflu merujuk pada flu dengan gejala lebih berat atau durasi lebih panjang dibanding flu musiman. Meski demikian, pola pencegahan dan penanganannya tetap berangkat dari prinsip kesehatan publik yang sama, yakni pencegahan berbasis perilaku hidup bersih dan sehat.

Dinkes P2KB mendorong masyarakat untuk kembali menginternalisasi kebiasaan yang sempat menguat saat pandemi, seperti menggunakan masker ketika sakit, menerapkan etika batuk, serta mencuci tangan secara rutin.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan potensi penularan penyakit pernapasan di ruang publik.

“Kami mengingatkan bahwa ketika seseorang mengalami gejala flu, sebaiknya membatasi aktivitas dan beristirahat di rumah. Ini bagian dari tanggung jawab kesehatan bersama,” ujar Intan.

Dalam konteks kesehatan publik, deteksi dini juga menjadi kunci. Warga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi lebih dari tiga hari, sesak napas, batuk disertai penurunan nafsu makan, atau saturasi oksigen di bawah 95 persen bagi yang memiliki alat pengukur.

Perhatian khusus diberikan kepada kelompok lanjut usia dan warga dengan penyakit penyerta. Dinkes menilai kelompok ini lebih rentan mengalami komplikasi apabila terlambat mendapatkan penanganan.

Meski belum ada laporan kasus superflu, Dinkes P2KB tetap menyiapkan rencana edukasi khusus sebagai bagian dari penguatan sistem kewaspadaan pasca pandemi.

Edukasi tersebut difokuskan pada peningkatan literasi kesehatan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan.

“Kami tidak ingin masyarakat panik, tetapi juga tidak lengah. Keseimbangan ini penting dalam menjaga ketahanan kesehatan publik,” kata Intan.

Pantauan di sejumlah ruang publik menunjukkan aktivitas masyarakat berlangsung normal tanpa penggunaan masker secara masif.

Kondisi ini mencerminkan tantangan kesehatan publik pasca pandemi, ketika normalisasi sosial berjalan beriringan dengan kebutuhan menjaga kewaspadaan terhadap penyakit menular. (saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.