Di Balik Lumpur Pantura Blandongan: Banjir Berulang, Jalan Licin, Nyawa Melayang

61

Laporan : Akhmad Romadoni

Hujan baru saja reda ketika Jalan Ir H Juanda, Kelurahan Blandongan, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan kembali berubah wajah. Bukan genangan air yang paling menakutkan, melainkan lumpur cokelat pekat yang menutup aspal sepanjang hampir satu kilometer. Jalur Pantura, urat nadi pergerakan ekonomi dan transportasi mendadak menjadi lintasan berbahaya.

Bagi warga Blandongan, pemandangan ini bukan cerita baru. Banjir lumpur telah berulang kali datang, terutama saat musim hujan. Dalam sebulan, kejadian serupa bisa terjadi tiga hingga empat kali. Air bercampur lumpur meluber dari Sungai Petung, menutup jalan, merambat ke permukiman, dan menyisakan ancaman bahkan setelah air surut.

“Kalau hujan deras di wilayah atas, di sini pasti kebanjiran,” ujar Wahyudi Nisfi (31), warga Kampung Kejobo Lor, Blandongan. Rumahnya hanya berjarak sekitar 50 meter dari Sungai Petung. Setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi, kecemasan selalu datang lebih dulu sebelum air.

Ketinggian air saat banjir, menurut Wahyudi, bisa mencapai 20 hingga 30 sentimeter. Tak jarang, aparat kepolisian terpaksa menutup jalur Pantura karena tak bisa dilalui kendaraan. Namun, bahaya justru kerap muncul setelah air menghilang.

“Lumpurnya tebal dan licin. Kecelakaan sering sekali terjadi. Sehari bisa lebih dari tiga kali,” katanya, Jumat (9/1/2026).

Hari itu, musibah kembali terjadi. Empat pengendara dilaporkan terpeleset di lokasi yang sama. Satu di antaranya meninggal dunia. Angka kecelakaan yang terus berulang seolah menjadi alarm keras bahwa masalah ini bukan sekadar genangan musiman.

Menurut Wahyudi, lumpur yang menutup jalan berasal dari wilayah hulu yang terbawa arus saat hujan deras. Meski normalisasi sungai sudah beberapa kali dilakukan, hasilnya dinilai belum signifikan. Lumpur tetap datang, menumpuk, dan berubah menjadi ancaman ganda licin saat basah, berdebu saat kering.

“Kalau sudah surut tapi lumpurnya tidak segera dibersihkan, itu tetap bahaya. Kalau kering jadi debu, pandangan terganggu, pengendara bisa jatuh,” jelasnya.

Ia berharap, saat banjir terjadi, penanganan tidak setengah-setengah. Petugas pembersih diharapkan bergerak cepat, sementara arus lalu lintas dialihkan demi keselamatan pengguna jalan.

Lebih jauh, Wahyudi menyimpan harapan besar pada solusi jangka panjang. Ia mengungkapkan pernah berdialog dengan anggota DPR RI terkait banjir lumpur yang terus berulang. Salah satu usulan yang ia sampaikan adalah meninggikan jembatan penghubung Jalur Pantura di kawasan tersebut.

“Kita berharap kalau bisa jembatannya ditinggikan, itu bisa jadi salah satu solusi supaya air tidak meluber ke jalan dan permukiman,” ujarnya. Namun hingga kini, harapan itu belum berbuah tindakan nyata.

Keresahan serupa juga dirasakan Hadi Mulyono (66) warga sekitar lainnya. Menurutnya, faktor lain yang memperparah banjir adalah keberadaan DAM di sebelah utara jalan yang belum difungsikan secara optimal.

“Itu DAM di utara rel belum dibuka. Kalau dibuka, banjirnya tidak akan sebesar ini,” kata Hadi. Ia menilai pengelolaan aliran air yang tidak maksimal turut memperparah kondisi di Blandongan.

Bagi warga dan para pengguna Jalur Pantura, banjir lumpur di Blandongan bukan lagi sekadar gangguan lalu lintas. Ia telah berubah menjadi ancaman keselamatan, bahkan merenggut nyawa. Harapan mereka sederhana namun mendesak: solusi konkret dari pemerintah daerah maupun pusat, agar jalur vital ini tak lagi menjadi lintasan maut setiap kali hujan turun. (don)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.