Glondongan Kayu Pohon Pinus Terbawa Banjir, Kades Andonosari Tutur Minta KLHK Evaluasi Program Tebang Pohon

104

Tutur (WartaBromo.com) – Banjir bandang yang terjadi di Desa Andonosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jumat (9/1/2026) siang, tak hanya membawa air bah, tetapi juga menyeret material glondongan kayu pinus hingga menutupi jembatan penghubung antarwilayah. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius warga, terutama ancaman jembatan jebol jika banjir susulan kembali terjadi.

Peristiwa tersebut terjadi di Dusun Krajan I, tepatnya Pedukuhan Sekar Kuning. Material kayu pinus menumpuk di badan jembatan, hampir menutup seluruh aliran sungai. Beruntung, air masih bisa mengalir melalui celah di bagian bawah jembatan, meski situasinya dinilai sangat rawan.

Kepala Desa Andonosari, Pujianto, menyebut material kayu yang terbawa banjir diduga merupakan sisa-sisa tebangan lama di kawasan hutan produksi Perhutani. Menurutnya, longsor lebih dulu terjadi di bagian hulu, sebelum akhirnya banjir menyeret kayu-kayu glondongan ke arah permukiman.

“Diduga sisa tebangan, di atas tanah Perhutani. Wilayahnya hutan produksi Perhutani, karena Perhutani itu perusahaan,” ujar Pujianto kepada wartabromo.com.

Ia menjelaskan, kawasan di bagian atas hulu sungai sebelumnya mengalami longsor. Material longsoran itulah yang kemudian terbawa arus deras, termasuk kayu-kayu pinus berukuran besar.

“Yang atas itu longsor dulu, terus material itu membawa kayu-kayu glondongan,” jelasnya.

Pujianto juga menyebut, sebagian wilayah di sekitar hulu, seperti Ngadirejo, kini banyak ditanami tanaman sayur. Kondisi tersebut, menurutnya, turut memengaruhi daya serap tanah saat hujan deras mengguyur kawasan lereng.

Jika melihat kondisi kayu yang terbawa banjir, Pujianto menduga itu merupakan hasil tebangan lama. “Kalau melihat kayunya, itu tebangan lama, dulu sekitar tahun 2019, saya lupa pastinya,” ungkapnya.

Meski jembatan masih berdiri, Pujianto mengaku sangat khawatir jika hujan deras kembali turun. Tekanan air yang lebih besar dikhawatirkan bisa menyeret jembatan, yang menjadi satu-satunya akses warga di wilayah tersebut.

“Kalau diteruskan (program tebang pohon) itu, jembatan ini untung tidak jebol. Kalau sampai jebol, itu bahaya, yang di bawah terdampak masyarakat,” tegasnya.

Saat ini, sekitar 30 kepala keluarga masih menggantungkan akses mobilitasnya pada jembatan tersebut. Atas kondisi itu, Pujianto secara tegas meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mengevaluasi program tebang habis di kawasan hutan produksi.

“KLHK itu mulai mengevaluasi program tebang habis. Kalau bisa dihentikan dulu,” pungkasnya.

Warga berharap ada langkah cepat dari pihak terkait untuk membersihkan material kayu di jembatan sekaligus meninjau ulang pengelolaan hutan di kawasan hulu, agar bencana serupa tidak kembali terulang. (don)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.