Banyak Pohon Terbawa Banjir di Andonosari, Perhutani Siap Evaluasi dan Sebut Bukan Tebangan Tetapi Pohon Tumbang

16

Tutur (WartaBromo.com) – Banjir bandang yang membawa material kayu hingga menyumbat jembatan di Desa Andonosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, memantik sorotan serius dari pemerintah desa. Kepala Desa Andonosari, Pujianto, secara tegas meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengevaluasi program tebang pohon di kawasan hutan produksi. Menanggapi hal itu, pihak Perhutani akhirnya angkat bicara.

Peristiwa banjir bandang terjadi pada Jumat (9/1/2026) siang. Material longsor berupa tanah dan batang pohon terbawa arus sungai hingga menumpuk di Jembatan Sekar Kuning, Dusun Krajan I, yang menjadi akses vital warga. Jembatan tersebut bahkan nyaris jebol akibat tekanan air dan kayu yang menyumbat aliran sungai.

Pujianto sebelumnya menyebut, sebagian material kayu yang terbawa banjir diduga berasal dari sisa-sisa tebangan lama di kawasan hutan produksi Perhutani. Ia mengkhawatirkan, jika hujan deras kembali terjadi, jembatan tersebut bisa roboh dan membahayakan warga di wilayah hilir. Saat ini, sedikitnya 30 kepala keluarga masih bergantung pada akses jembatan itu untuk mobilitas sehari-hari.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lawang Timur KPH Pasuruan, Fachri Abdillah, menjelaskan bahwa kejadian tersebut dipicu oleh intensitas hujan yang cukup tinggi dalam waktu lama.

“Berdasarkan laporan yang kami terima, telah terjadi tanah longsor di kawasan hutan akibat hujan deras yang berlangsung sejak Kamis, 8 Januari 2025 sekitar pukul 12.00 WIB hingga Jumat, 9 Januari 2025 pukul 03.00 WIB,” jelas Fachri, Senin (12/1/2026).

Ia menerangkan, material longsor berupa tanah dan pohon langsung turun ke aliran sungai. Selain itu, derasnya arus air juga membawa sejumlah pohon yang tumbang akibat angin kencang di sekitar bantaran sungai.

“Aliran sungai yang deras membawa material tersebut dan akhirnya tersumbat di Jembatan Sekar Kuning, Desa Andonosari, sehingga akses jalan desa sempat terhalang,” ujarnya.

Fachri menegaskan, kayu yang terbawa banjir tidak hanya berasal dari satu jenis. Selain pinus, terdapat pula jenis kayu lain yang ikut hanyut.

“Jenis kayu yang terbawa antara lain pinus, terete, anggrung, salam krikil, gondang, dan lainnya. Jadi bukan hanya pinus saja. Untuk pinus, ada yang berasal dari pohon tumbang akibat hujan lebat disertai angin kencang,” jelasnya.

Pasca kejadian, Perhutani bersama BPBD Kabupaten Pasuruan, TNI, serta masyarakat desa langsung turun tangan melakukan penanganan. Upaya pembersihan material dimulai sejak Jumat (9/1/2025) dan berlanjut hingga Sabtu (10/1/2025) untuk membersihkan sumbatan di aliran sungai.

“Untuk pohon sudah dicek bukan dari tebangan tetapi dari pohon tumbang di sekitar aliran sungai yang terbawa, ” terangnya.

Terkait permintaan Kepala Desa Andonosari agar program tebang pohon dievaluasi, Fachri menyatakan bahwa setiap kegiatan Perhutani, termasuk tebangan tahunan, selalu melalui proses evaluasi dan pengawasan.

“Untuk semua kegiatan Perhutani, termasuk tebangan, ada evaluasi dari Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Lumajang sebagai pengawas Perhutani Pasuruan,” terangnya.

Bahkan, kata Fachri, perwakilan CDK Lumajang telah turun langsung ke lokasi pasca banjir. “Kemarin perwakilan CDK Lumajang, Pak Sugianto, sudah ke lapangan dan ikut kerja bakti membersihkan aliran sungai. Untuk hasil evaluasi, kami masih menunggu dari CDK Lumajang,” tuturnya. (don)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.