Probolinggo (WartaBromo.com) – Di antara ratusan siswa yang hadir pada peresmian 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin lalu, sosok Riski Aulia mencuri perhatian.
Siswi kelas VII Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Kota Probolinggo itu berdiri dengan percaya diri di hadapan Presiden Prabowo Subianto, melantunkan pidato dalam bahasa Jepang dengan lancar.
Tak banyak yang menyangka, kemampuan berbahasa asing yang memukau itu berawal dari kebiasaan sederhana: menonton anime di rumah.
“Belajar otodidak dari layar ponsel dan cerita animasi Jepang, dimulai dari menirukan kata demi kata, lalu memperdalamnya melalui berbagai aplikasi belajar bahasa,” jelas Aulia, sapaan akrabnya, Kamis (15/1/2026).
Kesempatan emas datang ketika sekolahnya terpilih mengirim perwakilan dalam peresmian nasional Sekolah Rakyat. Bersama tiga siswa lainnya dari daerah berbeda, Aulia menjalani latihan intensif selama sepuluh hari.
Ia tidak hanya berlatih berbicara, tetapi juga mempelajari penulisan huruf hiragana dan katakana hingga benar-benar siap tampil.
Hari itu, di hadapan orang nomor satu di Indonesia, Aulia tak menunjukkan sedikit pun rasa gugup. Kata-kata dalam bahasa Jepang mengalir dari bibirnya, disambut tepuk tangan dan decak kagum para undangan.
Presiden Prabowo pun tampak terkesan, bahkan menyempatkan diri bertemu langsung dengan para siswa berprestasi itu dan menyampaikan keinginannya untuk mengajak mereka ke luar negeri.

Saat kembali ke sekolahnya di Probolinggo, Aulia kembali menjadi siswi sederhana. Di depan kelas, ia menceritakan pengalamannya berdiri di panggung nasional, sesuatu yang dulu tak pernah terbayangkan olehnya. “Awalnya cuma suka nonton anime,” tuturnya polos.
Kepala sekolahnya, Susilowati, menyebut Aulia sebagai contoh bahwa bakat bisa tumbuh dari mana saja, asalkan dipupuk dengan kesungguhan. “Dia tekun, cepat menangkap pelajaran, dan tidak mudah menyerah,” kata kepala sekolah.
Gadis kelahiran Probolinggo, 27 Juli 2012 ini, kini menyimpan mimpi lebih besar. Ia ingin suatu hari menginjakkan kaki di Jepang, negeri yang bahasanya telah mengubah hidupnya. Bahkan, ia bercita-cita menjadi seorang seniman lukis yang karyanya bisa dikenal dunia.
Dari hobi sederhana menonton anime, Aulia melangkah hingga ke hadapan Presiden.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa mimpi anak-anak Indonesia bisa tumbuh di mana saja, di ruang kelas sederhana, di balik layar ponsel, dan di hati mereka yang berani percaya pada kemampuannya sendiri. (lai/saw)





















