Revitalisasi Museum Tengger, Negara Masuk ke Jantung Budaya Bromo

9

Probolinggo (WartaBromo.com) — Pemerintah pusat menegaskan kehadirannya dalam menjaga kebudayaan masyarakat adat di kawasan wisata Bromo.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon meresmikan revitalisasi Museum Tengger di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Senin (26/1/2026).

Peresmian dilakukan bersama Wakil Bupati Probolinggo Fahmi AHZ, ditandai dengan penandatanganan prasasti. Museum yang berada di jalur utama wisata Gunung Bromo itu kini tampil dengan tata ruang dan fasilitas yang diperbarui, setelah sebelumnya dinilai belum merepresentasikan kekayaan budaya Suku Tengger secara utuh.

Bagi Fadli Zon, Museum Tengger tidak sekadar bangunan pelengkap destinasi wisata. Ia melihatnya sebagai simpul penting dalam ekosistem kebudayaan di kawasan Bromo—wilayah yang selama ini lebih dikenal lewat lanskap alam dibandingkan manusia dan tradisinya.

“Saya melihat langsung kondisi museum ini saat Yadnya Kasada beberapa bulan lalu. Dari situ tampak jelas, museum ini perlu diperkuat agar mampu menjadi pusat informasi dan edukasi budaya,” kata Fadli.

Menurut dia, revitalisasi museum merupakan bagian dari strategi pelestarian budaya yang berkelanjutan, terutama bagi komunitas adat seperti masyarakat Tengger yang masih memegang teguh nilai-nilai leluhur. Ia menilai, kebudayaan Tengger bukan artefak masa lalu, melainkan praktik hidup yang terus berjalan.

Museum Tengger menyimpan berbagai koleksi terkait kehidupan masyarakat adat, mulai dari benda ritual, busana adat, dokumentasi upacara Yadnya Kasada, hingga catatan sejarah relasi masyarakat Tengger dengan alam Bromo. Koleksi itu mencerminkan prinsip harmoni—antara manusia, lingkungan, dan keyakinan—yang menjadi fondasi kehidupan mereka.

Wakil Bupati Probolinggo Fahmi AHZ mengatakan, revitalisasi museum ini menjadi bentuk pengakuan negara atas peran budaya lokal dalam membangun identitas daerah. Ia menyebut museum sebagai ruang pewarisan nilai, bukan sekadar tempat pamer.

“Museum Tengger kami harapkan menjadi pusat pembelajaran budaya, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan. Ini penting agar pengembangan pariwisata tidak menggerus identitas,” ujar Fahmi.

Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Probolinggo mendorong agar Museum Tengger terhubung dengan agenda pendidikan, riset, dan pariwisata berbasis budaya. Dengan begitu, manfaatnya tidak hanya simbolik, tetapi juga berdampak bagi masyarakat sekitar.

Fadli Zon menegaskan, penguatan museum di kawasan wisata strategis seperti Bromo harus menjadi bagian dari kebijakan nasional kebudayaan. Menurutnya, pariwisata tanpa narasi budaya berisiko menjadikan daerah hanya sebagai etalase alam.

“Masyarakat Tengger telah menunjukkan bahwa budaya adalah sumber daya. Tugas negara adalah memastikan sumber daya itu dirawat, dipahami, dan diwariskan,” katanya.

Ia pun mengajak wisatawan yang berkunjung ke Gunung Bromo untuk tidak berhenti pada pengalaman visual, melainkan juga memahami kebudayaan masyarakat yang hidup di sekitarnya.

“Bromo bukan hanya tentang gunung dan pasir. Ada sejarah, ada manusia, dan ada kebudayaan yang menyertainya,” ujar Fadli. (lai/saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.