Prigen (WartaBromo.com) – Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, Sugiyanto, melontarkan kritik keras terkait menurunnya debit sejumlah sumber mata air di kawasan lereng Gunung Arjuno–Welirang. Ia menilai kondisi tersebut tidak bisa lagi dianggap persoalan biasa, melainkan sudah menjadi peringatan serius bagi keberlanjutan lingkungan dan ketersediaan air masyarakat.
Sugiyanto mengaku menemukan banyak sumber mata air di wilayah tempat tinggalnya yang kini mengalami penyusutan debit, bahkan sebagian dilaporkan mati. Fenomena itu disebutnya terjadi di sejumlah kawasan penyangga air yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga.
Ia pun mengingatkan para pelaku industri, khususnya industri air minum dalam kemasan dan sektor usaha yang menjadikan air sebagai bahan baku utama, agar tidak hanya mengambil manfaat ekonomi tanpa ikut menjaga keseimbangan alam.
Menurutnya, eksploitasi air dalam skala besar diduga menjadi salah satu faktor yang mempercepat penurunan debit mata air. Aktivitas distribusi air tangki hingga industri air kemasan yang berkembang di wilayah Prigen, Pandaan, Sukorejo, hingga Gempol dinilai perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah.
“Air adalah kebutuhan dasar bagi semua makhluk hidup. Karena itu, menjaga keberlangsungan sumber mata air merupakan tanggung jawab bersama,” ujar politisi PDI Perjuangan tersebut
Sugiyanto menegaskan, perusahaan yang memanfaatkan sumber air dalam jumlah besar harus memiliki tanggung jawab moral dan ekologis. Ia meminta langkah konkret berupa program penanaman pohon, perlindungan kawasan resapan, serta keterlibatan aktif dalam menjaga kelestarian hutan di kawasan lereng Arjuno–Welirang.
“Kami berharap pelaku industri air minum tidak abai terhadap kelestarian alam. Penanaman pohon harus menjadi program prioritas agar mata air tetap terjaga,” tegasnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kerusakan sumber air bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman sosial jangka panjang. Jika mata air terus menyusut, masyarakat berpotensi mengalami krisis air bersih di masa mendatang.
Sugiyanto juga menyampaikan filosofi sederhana yang ia terima dari para sesepuh mengenai makna kata “air”. Menurutnya, pesan tersebut menjadi pengingat moral bagi manusia untuk menjaga alam.
“Air itu terdiri dari tiga huruf. A berarti ‘aku’, I berarti ‘iki’ atau ini, dan R berarti ‘rawaten’ atau rawat. Artinya, air memberi pesan kepada kita untuk selalu menjaga dan melindunginya,” tuturnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah, dan pelaku industri untuk bersama menjaga kelestarian hutan dan kawasan resapan air.
“Mari kita jaga dan lestarikan hutan kita, agar yang mengalir adalah mata air, bukan air mata,” pungkasnya. (fir/red)




















