TOSARI (WartaBromo.com) – Udara dingin khas pegunungan di Desa Podokoyo, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, pagi itu terasa berbeda. Di antara lanskap yang selama ini identik dengan sayur-mayur dan tanaman hortikultura, hamparan tanaman gandum tampak bergoyang pelan diterpa angin. Pemandangan yang dulu terasa asing, kini menjadi simbol harapan baru bagi pertanian desa.
Tak banyak yang menyangka, wilayah di lereng pegunungan ini mampu menjadi lokasi tumbuhnya gandum — komoditas yang selama ini identik dengan negara beriklim subtropis. Namun, melalui sebuah uji coba sederhana, Desa Podokoyo justru mencatat sejarah baru sebagai lokasi budidaya gandum pertama di Kabupaten Pasuruan.
Berawal dari Tanah Kas Desa yang Terlupakan

Cerita ini bermula bukan dari program besar pemerintah, melainkan dari sebuah kebutuhan sederhana: pencarian lahan untuk eksperimen pertanian.
Sekretaris Desa Podokoyo, Ismanto, mengisahkan bagaimana pihak luar datang mencari lahan sewa untuk uji coba penanaman gandum. Saat itu, warga belum memiliki lahan pribadi yang siap disewakan. Pemerintah desa pun mengambil keputusan yang tak terduga — memanfaatkan Tanah Kas Desa (TKD) yang selama ini terbengkalai.
Awalnya hanya sekitar satu hektar lebih lahan yang digunakan untuk percobaan. Namun hasil pertumbuhan tanaman yang dinilai menjanjikan perlahan mengubah keraguan menjadi optimisme.
“Setelah progresnya terlihat bagus, warga mulai percaya. Beberapa akhirnya ikut menyewakan lahannya hingga total mencapai sekitar tiga hektar,” tutur Ismanto, Senin (23/2/2026).
Tanah yang sebelumnya tak menghasilkan apa pun kini berubah menjadi ladang produktif.
Dampak Ekonomi yang Mulai Terasa
Keberhasilan awal budidaya gandum tidak hanya menghadirkan inovasi pertanian, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi desa.
Melalui sistem sewa lahan, Tanah Kas Desa yang dulu menganggur kini menyumbang Pendapatan Asli Desa (PAD). Di saat bersamaan, warga setempat ikut dilibatkan sebagai tenaga kerja dalam pengelolaan lahan — mulai dari penanaman hingga perawatan tanaman.
Bagi masyarakat pegunungan yang sebagian besar menggantungkan hidup pada pertanian musiman, kehadiran komoditas baru ini menjadi alternatif sumber penghasilan.
“Lumayan untuk tambahan PAD. Dulu tanah kas desa itu tidak ada yang mengelola. Sekarang bisa menghasilkan, masyarakat juga dapat pekerjaan,” ujar Ismanto.
Di balik hamparan gandum itu, ada aktivitas baru yang menghidupkan desa: warga bekerja bersama, belajar teknik budidaya baru, sekaligus menyaksikan perubahan perlahan di lingkungan mereka sendiri.
Panen Perdana dan Harapan yang Menguat

Budidaya gandum di Podokoyo dilakukan melalui empat tahap penanaman. Saat ini, desa tersebut telah melewati momen penting: panen perdana tahap awal.
Keberhasilan itu rupanya tidak luput dari perhatian pemerintah daerah. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pasuruan bersama instansi terkait turun langsung meninjau lokasi, melihat potensi komoditas baru yang mulai tumbuh di wilayah Tosari.
Bagi pemerintah desa, kunjungan tersebut menjadi sinyal positif bahwa gandum bukan sekadar eksperimen, tetapi peluang nyata yang bisa dikembangkan lebih jauh.
Harapannya, dukungan pemerintah dapat membuka akses pasar yang lebih luas, sehingga hasil panen tidak berhenti sebagai proyek percobaan semata, melainkan berkembang menjadi komoditas unggulan baru.
Menanam Masa Depan di Tanah Pegunungan
Di Desa Podokoyo, gandum kini bukan hanya tanaman baru. Ia menjadi simbol perubahan cara pandang — bahwa desa pegunungan pun mampu beradaptasi dengan inovasi pertanian yang sebelumnya terasa jauh dari realitas lokal.
Dari lahan yang sempat terlupakan, tumbuh harapan baru tentang diversifikasi pertanian, kemandirian ekonomi desa, dan kemungkinan masa depan yang lebih luas bagi petani lereng Tosari.
Di antara kabut tipis pegunungan, bulir-bulir gandum itu seolah menyampaikan pesan sederhana: kadang, perubahan besar memang bermula dari sebuah percobaan kecil.
(fir/red)




















