“Iya memang. Ini sudah termasuk rasan-rasan. Tapi bagimana lagi? Wong sudah dirasani saja kita masih ngawur. Barangkali dengan dirasani begini bisa sampai terdengar ke telinga para penjenenganipun di pusat sana.“
Oleh : Abdurrozaq
Ramadan, sebenarnya bulan tanpa ghibah alias rasan-rasan dan kemarahan. Ramadan, sebenarnya juga bulan di mana setan dibelenggu sehingga tak bisa menggoda umat Kanjeng Nabi. Namun di negara Cak Manap, khususnya di propinsi dan kota Mahmud Wicaksono, hal itu urung terwujud. Perang sarung, balap liar, orang tadarrus tengah malam hingga begal, memang sudah menjadi wabah langganan. Tapi Ramadan kali ini, ditambah dengan fenomena dugaan, sekali lagi dugaan, kongkalikong program maha mulia milik penjenenganipun Presiden yang bernama MBG.
Sebelum Ramadan kemarin, para buzzer menghembuskan narasi simpang siur bahwa MBG akan diberikan kepada para siswa siang hari. Namun karena para buzzer kurang cerdas dalam menggoreng provokasi, masyarakat tak percaya. Sayangnya, kepercayaan masyarakat khusunya wali murid, malah dirusak sendiri oleh para pengelola dapur MBG. Ini bukan lagi bahan provokasi para buzzer pemecah belah bangsa, namun sudah menjadi fakta dan para wartawan sudah berani menulisnya.
“Program semulia ini, mbok yo ngamek batine ojo nemen-nemen,” gerutu Mahmud Wicaksono seraya rebahan di lincak warung Cak Sueb. “Masa menu MBG yang setiap porsinya dijatah sebesar 15.000 ribu, hanya berisi tempe bacem, rolade dan buah jambu tanpa makanan utama yang layak. Kalau dihitung-hitung, bisa jadi perporsi hanya seharga 8.000 ribu. Kenemenen. Ini ngentit apa merampas sih?”
“Wes mbuh cak. Repot. Mau ngomong takut jadi tersangka, tidak ngomong gregeten,” timpal Cak Paijo LSM.
“Masa makan bergizi cuma dikasi roti murah, pisang, sebungkus kecil kacang, beberapa butir kurma dan susu kemasan. Ada juga yang cuma berisi makanan yang harganya tak sampai anggaran dari pemerintah pusat. Ada yang hanya diberi makanan kering dan permintaan maaf dari pihak terkait. Ini kan menghianati pemerintah pusat. Padahal, program mulia ini merupakan janji kampanye. Apa ini murni unsur ngamek bati, atau sekaligus sabotase musuh politik untuk menjatuhkan pencetus program ini,” ujar Cak Paijo LSM.
“Saya baca berita kemarin, ada wali murid yang mencoba mengkalkulasi harga menu MBG yang diterima anaknya. Kira-kira hanya seharga 5.000 hingga 8.000 rupiah,” timpal Mahmud Wicaksono.
“Di propinsi kita ini, sampai ada wakil rakyat yang memohon agar menu MBG dan prosedur pengolahan hingga distribusinya, sesuai dengan amanat pusat,” tambah Mahmud Wicaksono.
“Halah, bisa jadi dia gak kumanan proyek dapur MBG. Makanya berani bersuara. Atau paling tidak, pemilu depan ia akan maju lagi. Lha wong hampir setiap partai rebutan tender dapur MBG, kok,” curiga Cak Paijo LSM.
“Hus, gak ilok, cak. Ramadan jangan suudhan. Nanti diborgol sampeyan,” tegur Mahmud Wicaksono.
“Itulah indahnya negara Cak Manap ini. Kalau kita mencintai negara dengan urun rembug dan menyumbangkan ide waras, malah bahaya. Bisa jadi terjerat pasal karet dan kita lebaran di hotel prodeo,” sinis Cak Paijo LSM.
“Padahal program ini anggarannya ugal-ugalan, lho. Jauh lebih mahal dari harga kapal induk Amerika yang mondar-mandir di selat Hormuz dekat Iran. Secara kasat mata memang program ini ada bagusnya. Tapi di negara Cak Manap, apa sih yang tidak di-entit? Ini bukan fitnah atau makar lho ya. Sudah banyak berita di media “valid” yang menulisnya,” ujar Mahmud Wicaksono berhati-hati.
“Iya, mas. Kita rasan-rasan ini lho karena kita nasionalis. Negara yang sudah mulai menata pondasi kemajuan, malah kita malingi sendiri, kita entit sendiri. pokoknya, selama pelaku korupsi dan per-entitan tidak dihukum mati, sampai Dajjal turun pun kita akan tetap melarat,” geram Cak Paijo LSM.
“Menyesal saya tadi ke warung,” celetuk Wak Takrip.
“Kenapa, wak?” tegur Gus Karimun.
“Jadi ikut mendengar rasan-rasan, gus,” balas Wak Takrip.
“Iya memang. Ini sudah termasuk rasan-rasan. Tapi bagimana lagi? Wong sudah dirasani saja kita masih ngawur. Barangkali dengan dirasani begini bisa sampai terdengar ke telinga para penjenenganipun di pusat sana. Jadi andai pahala puasa kita hilang karena rasan-rasan, ada sumbutnya juga karena sampai terdengar ke alam kayangan. Barangkali ada evaluasi. Barangkali program ambisius dan konon bagus ini bisa dikaji ulang bahkan dibatalkan, eh dialihkan dalam bentuk lain.”
“Tapi gus, memang repot sih. Kalau program MBG ini diganti dengan uang apalagi dicairkan secara rapel, takutnya malah dipakai buat beli HP, kulkas atau motor listrik seperti bansos-bansos lainnya,” kata Cak Manap. Gus Karimun tersenyum getir.
“Tapi program ini banyak baiknya juga lho, cak. Bisa menjadi pekerjaan tambahan bagi para pejabat, bisa menyerap tenaga kerja dari para tim sukses saat nyaleg, bisa menjadi sumber dana nyaur utang biaya pemilu, bisa jadi sumber dana partai. Dan kalau benar isu pegawai MBG akan diangkat menjadi tenaga PPPK, lumayan bisa meningkatkan kesejahteraan sebagian orang. Soal guru honorer tetap digaji 200 ribu perbulan, tak usah khawatir. Para guru itu orang-orang ikhlas,”
*tulisan ini hanya fiksi semata. Kesamaan nama dan peristiwa hanya kebetulan





















