Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Awal, BMKG Wanti-wanti Risiko Kekeringan

23
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, saat konferensi pers perkiraan musim kemarau. Foto ; dok. BMKG

Jakarta (WartaBromo.com) — Musim kemarau 2026 diperkirakan datang lebih cepat di sebagian besar wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut pergeseran pola iklim global menjadi penyebab utama, setelah fenomena La Niña lemah berakhir dan kondisi iklim bergerak menuju fase netral dengan potensi berkembang menjadi El Niño.

BMKG memprediksi musim kemarau 2026 akan tiba lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologinya. Kondisi ini terjadi setelah fenomena La Niña lemah yang berlangsung pada awal tahun berakhir pada Februari 2026 dan sistem iklim global memasuki fase netral.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan pemantauan suhu muka laut di Samudera Pasifik menunjukkan indeks ENSO berada di angka minus 0,28 atau kategori netral. Meski demikian, peluang munculnya El Niño kategori lemah hingga moderat pada semester kedua tahun ini cukup terbuka.

“Peluang terbentuknya El Niño pada pertengahan tahun berkisar 50 sampai 60 persen,” kata Faisal dalam konferensi pers prakiraan awal musim kemarau 2026 di Jakarta, Rabu (4/3/2026).

BMKG juga mencatat kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diperkirakan tetap berada pada fase netral sepanjang tahun. Meski demikian, perubahan sirkulasi angin musiman dari Monsun Asia menuju Monsun Australia diprediksi tetap memicu peralihan musim secara bertahap.

Data BMKG menunjukkan sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.

Wilayah tersebut meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian kecil wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

Pada Mei 2026, sebanyak 184 ZOM diperkirakan menyusul memasuki musim kemarau. Kemudian 163 ZOM lainnya pada Juni.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan hampir setengah wilayah Indonesia diperkirakan mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari biasanya.

“Sebanyak 325 ZOM atau sekitar 46,5 persen wilayah diprediksi mengalami kemarau lebih awal. Sementara 173 ZOM sesuai pola normal, dan 72 ZOM justru mundur,” kata Ardhasena.

Wilayah yang berpotensi mengalami kemarau lebih awal antara lain sebagian besar Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026, yang mencakup sekitar 429 ZOM atau 61,4 persen wilayah Indonesia. Sebagian wilayah lain diprediksi mencapai puncak kemarau pada Juli dan September.

Selain datang lebih cepat, musim kemarau tahun ini juga diperkirakan lebih kering dari biasanya.

Analisis BMKG menunjukkan sekitar 451 ZOM atau 64,5 persen wilayah Indonesia akan mengalami kemarau dengan sifat bawah normal atau curah hujan lebih sedikit dari rata-rata.

“Dengan kondisi tersebut, durasi musim kemarau di lebih dari separuh wilayah Indonesia berpotensi lebih panjang dari biasanya,” ujar Faisal.

BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan berbagai sektor untuk mulai melakukan langkah antisipasi. Di sektor pertanian, misalnya, petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan.

Selain itu, pengelolaan sumber daya air dinilai penting untuk menjamin ketersediaan air bersih serta menjaga pasokan energi, terutama di wilayah yang bergantung pada pembangkit listrik tenaga air.

BMKG juga mengingatkan potensi meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan serta penurunan kualitas udara selama periode kemarau.

“Informasi ini merupakan peringatan dini. Harapannya dapat segera ditindaklanjuti dengan langkah mitigasi di tingkat pemerintah daerah maupun masyarakat,” kata Faisal. (saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.