Bagi warga sekitar, kemacetan yang terjadi setiap Maleman bukanlah gangguan. Justru menjadi bagian dari “seni” Ramadan yang selalu mereka nantikan setiap tahun. Banyak warga dengan sukarela membuka teras rumah untuk tempat istirahat jamaah, bahkan menyediakan kopi dan makanan gratis bagi para tamu yang datang beribadah.
Oleh : M. Dofir
Purwosari (WartaBromo.com) – Tepat ketika jarum jam menunjuk pukul 00.00 WIB, keheningan Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari, mendadak pecah oleh gema dzikir yang menggetarkan udara. Ribuan lisan melantunkan asma Ilahi secara serempak, membentuk harmoni spiritual yang terasa hingga jauh dari kompleks pesantren.
Bukan hanya puluhan, bukan pula ratusan. Malam itu, puluhan ribu manusia berkumpul dalam satu tujuan: mengharap rida Allah di sepuluh malam terakhir Ramadan.
Pemandangan tersebut menjadi tradisi tahunan di Pondok Pesantren Ngalah setiap memasuki malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Sejak malam ke-21 hingga puncaknya nanti di malam ke-29, pesantren yang diasuh ulama karismatik KH. Sholeh Bahruddin itu seakan berubah menjadi lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru daerah.
Jumat (13/3/2026) dini hari, yang bertepatan dengan malam ke-23 Ramadan 1447 Hijriah, kembali menjadi saksi betapa kuatnya magnet spiritual Ponpes Ngalah. Sejak Kamis petang, arus jamaah terus mengalir memasuki kawasan pesantren. Area inti pondok penuh sesak, sementara ribuan jamaah lainnya meluber hingga ke gang-gang perkampungan warga serta sepanjang jalan utama di sekitar pesantren.
Ketua Panitia Maleman Ponpes Ngalah, Muhammad Dayat, mengungkapkan antusiasme jamaah yang datang tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Kurang lebih ada sekitar 30 ribu jamaah yang mengikuti Maleman 23 ini. Biasanya jumlahnya akan semakin membesar pada malam ke-25, 27 hingga 29. Bahkan bisa mencapai 40 ribu orang,” ujar Dayat usai kegiatan berlangsung.
Menurutnya, angka tersebut bukan sekadar perkiraan. Tren setiap tahun memang menunjukkan peningkatan jumlah jamaah yang hadir untuk mengikuti dzikir bersama dan rangkaian ibadah di malam-malam ganjil Ramadan.
Puluhan ribu jamaah yang hadir membuktikan bahwa jarak bukanlah penghalang bagi mereka yang haus akan ketenangan batin. Lapangan, halaman sekolah hingga tepi jalan di sekitar pesantren dipenuhi kendaraan jamaah. Mereka datang tidak hanya dari Pasuruan, tetapi juga dari Probolinggo, Sidoarjo, Surabaya, Malang Raya hingga Kota Batu.
Salah seorang jamaah, Fahmi Lubis, bahkan rela menempuh perjalanan berjam-jam dari Kota Batu demi mengikuti Maleman di Ponpes Ngalah.
“Setiap tahun saya selalu datang. Niatnya ibadah sekaligus ngalap barokah di malam-malam ganjil Ramadan. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan ketika berdzikir bersama puluhan ribu orang di sini,” ungkapnya dengan wajah teduh, meski baru saja menuntaskan rangkaian ibadah panjang.
Meski kawasan pesantren dipadati puluhan ribu orang dan kendaraan, suasana tetap tertib dan terkendali. Pengaturan area ibadah, parkir kendaraan hingga rekayasa arus lalu lintas berjalan rapi. Hal ini tidak lepas dari sinergi antara petugas keamanan pesantren, organisasi kemasyarakatan, TNI dan kepolisian yang berjaga di berbagai titik untuk memastikan kelancaran aktivitas di kawasan Purwosari.
Bagi warga sekitar, kemacetan yang terjadi setiap Maleman bukanlah gangguan. Justru menjadi bagian dari “seni” Ramadan yang selalu mereka nantikan setiap tahun. Banyak warga dengan sukarela membuka teras rumah untuk tempat istirahat jamaah, bahkan menyediakan kopi dan makanan gratis bagi para tamu yang datang beribadah.
Menjelang akhir rangkaian kegiatan, para jamaah mendapatkan siraman rohani melalui mauidlotul hasanah yang disampaikan langsung oleh KH. Sholeh Bahruddin. Tausiah tersebut menjadi penutup malam penuh harap, sekaligus pengingat tentang kemuliaan malam Lailatul Qadar yang dinantikan setiap muslim.
Ketika fajar mulai mendekat, satu per satu jamaah perlahan meninggalkan kawasan pesantren. Mereka pulang bukan sekadar membawa lelah perjalanan, tetapi juga memanggul harapan besar—membawa pulang secercah cahaya Lailatul Qadar ke rumah dan kehidupan mereka masing-masing.





















