Pasuruan (WartaBromo.com) – Banjir merendam sejumlah wilayah di Pasuruan pada Selasa (24/3/2026). Selain mengganggu aktivitas warga, genangan air banjir juga menyimpan ancaman serius bagi kesehatan, terutama penyakit kulit akibat paparan air kotor.
Air banjir diketahui mengandung berbagai kuman, bakteri, hingga zat berbahaya yang dapat memicu infeksi. Warga yang terpaksa beraktivitas di tengah genangan pun harus lebih waspada dan menjaga kebersihan tubuh.
Berikut sejumlah penyakit kulit yang berpotensi muncul setelah terpapar air banjir:
1. Infeksi Kulit dan Jaringan Lunak
Paparan air banjir yang kotor dapat memicu infeksi kulit, terutama pada luka terbuka. Kondisi ini ditandai dengan kemerahan yang meluas, kulit terasa hangat, nyeri saat ditekan, hingga muncul cairan dari luka.
Warga disarankan memantau kondisi luka secara berkala. Jika muncul gejala tersebut, segera lakukan penanganan medis. Pasalnya, infeksi ini bisa berkembang menjadi serius bahkan fatal, terutama pada anak-anak yang lebih rentan terhadap kuman.
2. Penyakit Kulit Akibat Gigitan Hewan
Genangan banjir kerap menjadi sarang hewan dan serangga, seperti nyamuk. Gigitan serangga biasanya menimbulkan bentol dan rasa gatal.
Namun, pada kondisi tertentu, gigitan bisa memicu reaksi alergi. Jika digaruk, luka bisa terbuka dan berisiko mengalami infeksi. Karena itu, penting untuk menghindari menggaruk area yang terkena gigitan.
3. Kurap
Lingkungan lembap akibat banjir menjadi tempat ideal bagi jamur berkembang. Kondisi ini dapat memicu munculnya kurap atau memperparah infeksi jamur yang sudah ada.
Kurap sering muncul di sela-sela jari kaki atau lipatan kulit yang jarang dibersihkan. Terlebih jika kaki terlalu lama terendam air banjir, risiko infeksi jamur akan meningkat.
4. Dermatitis Alergi
Warga dengan kulit sensitif perlu ekstra waspada. Paparan air banjir dapat memicu dermatitis alergi, yaitu reaksi kulit akibat kontak dengan zat tertentu.
Gejalanya meliputi ruam, gatal, hingga iritasi yang bisa semakin parah jika tidak segera ditangani. Kondisi lembap dan dingin juga memperbesar risiko munculnya gangguan ini. (Jun)





















