Prigen (WartaBromo.com) – Kebakaran hutan di kawasan Gunung Arjuno-Welirang dilaporkan meluas dan berdampak terhadap infrastruktur warga. Salah satu dampak yang muncul adalah kerusakan jaringan air bersih milik masyarakat Desa Jatijarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
Berdasarkan infografis data laporan Desa Jatijarjo, kebakaran tersebar di sejumlah blok kawasan hutan, mulai dari wilayah Gunung Ringgit hingga Gunung Arjuno. Sedikitnya 11 titik kebakaran dicantumkan dalam laporan tersebut.
Titik-titik itu meliputi Blok Curah Lumut, Blok Anjait, Blok Sawahan Kesek, Blok Prangas, Blok Rangsang, Blok Codo, Blok Gumandar, Blok Bulak, Blok Putuk Bunder, Blok Lembah Kijang, dan Blok Banyu Kuning.
Meluasnya kebakaran tidak hanya mengancam kelestarian hutan, tetapi juga berpotensi memicu dampak berantai bagi masyarakat di sekitar kawasan. Kerusakan vegetasi dapat meningkatkan risiko erosi dan longsor, mengganggu sumber air, serta mengancam aktivitas pertanian dan perkebunan.
Dalam data laporan tersebut, tercatat dampak kebakaran mengakibatkan kerusakan pada empat jalur jaringan pipa dengan total panjang sekitar 5.250 meter atau 5,25 kilometer.
Rinciannya, jaringan induk berdiameter 5 dimensi pipa PVC dari Banyu Udan menuju tandon Langkahan mengalami kerusakan sepanjang 750 meter. Kerusakan sepanjang 750 meter juga terjadi pada pipa PVC berdiameter 3 dimensi dan 2 dimensi dari Banyu Udan menuju tandon Langkahan.
Sementara itu, jalur pipa PVC berdiameter 2 dimensi dari mata air Mata Air IMMD menuju Langkahan dilaporkan terdampak sepanjang 3.000 meter.
Kerusakan jaringan tersebut menjadi persoalan serius karena air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat.
Menurut informasi dari Kepala Desa Jatiarjo, M Hudan Dardiri, saluran air yang mengalami kerusakan akibat karhutla itu merupakan saluran sentral yang selama ini menopang kebutuhan air masyarakat.
“Sekarang warga bukan kesulitan lagi, tapi tidak ada pasokan,” kata Dardiri saat dikonfirmasi pada Minggu (18/10/2026).
Namun, data yang tersedia belum merinci jumlah warga terdampak, durasi gangguan distribusi, maupun kebutuhan biaya untuk memperbaiki jaringan pipa yang rusak.
Pemerintah Desa Jatiarjo akan segera melakukan darurat untuk mengatasi persoalan tersebut.
“Nanti malam kami akan rapat darurat, karena saat ini masih dihutan untuk ngurus air bersih, dan data kita masih belum lengkap 100 persen,” ujarnya.
Kebakaran hutan di kawasan Arjuno-Welirang juga membawa ancaman ekologis dan sosial yang lebih luas. Selain kerusakan habitat dan hilangnya sumber air, kawasan yang terbakar berpotensi mengalami peningkatan risiko bencana hidrometeorologi, terutama ketika hujan turun di wilayah dengan tutupan vegetasi yang rusak.
Dari sisi ekonomi, kebakaran dapat mengganggu kegiatan pertanian dan perkebunan serta mengurangi potensi hasil hutan. Adapun bagi masyarakat di sekitar kawasan, ancaman terhadap keselamatan dan ketersediaan air bersih menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan segera.
Kondisi tersebut menuntut penanganan yang tidak hanya berfokus pada pemadaman api. Pemulihan jaringan air bersih, perlindungan sumber mata air, serta evaluasi dampak kebakaran terhadap lingkungan dan permukiman perlu menjadi bagian dari langkah penanganan.
Pemerintah dan pihak terkait juga perlu memastikan pendataan kerusakan dilakukan secara menyeluruh, termasuk menghitung jumlah warga terdampak, memetakan kebutuhan perbaikan pipa, dan menyiapkan langkah pemulihan pascakebakaran.
“Pemkabnya nampaknya juga sudah tau dari data rilis kita, besok kita akan mengirim proposal kepapa BPBD dan Bupati,” jelasnya. (Fir)





















