Angka Stunting Turun, Pemkot Pasuruan Sisir Balita yang Belum Terdata

17

Pasuruan (WartaBromo.com) – Angka stunting di Kota Pasuruan menunjukkan penurunan dari 9,71 persen menjadi 8,2 persen. Meski demikian, Pemerintah Kota Pasuruan tetap memperkuat intervensi gizi melalui Grebek Stunting Tahap II, termasuk menjangkau balita yang belum masuk pendataan.

Program tersebut resmi dimulai melalui kegiatan Kick-off Grebek Stunting Tahap II yang dibuka Wakil Wali Kota Pasuruan, M. Nawawi, di Ruang UNSUR, Selasa (20/10/2026).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pasuruan, Sherly Marlena, mengatakan, pelaksanaan tahap kedua ini merupakan upaya untuk mempertahankan tren penurunan stunting sekaligus memastikan balita yang membutuhkan penanganan mendapat intervensi sesuai kondisinya.

“Grebek Stunting Tahap II ini kami lakukan untuk menekan angka stunting di Kota Pasuruan. Kami ingin memastikan balita yang membutuhkan intervensi gizi bisa terjangkau, termasuk mereka yang belum masuk dalam pendataan,” ujarnya, Rabu (21/10/2026).

Menurut Sherly, penurunan prevalensi stunting menjadi capaian yang perlu dipertahankan. Namun, upaya tersebut tidak cukup hanya dengan menangani balita yang sudah tercatat sebagai sasaran program. Penjangkauan di lapangan juga perlu diperluas agar tidak ada balita yang luput dari pemantauan.

Dalam program ini, sebanyak 529 balita telah tercatat sebagai sasaran. Dinas Kesehatan bersama perangkat daerah dan unsur kewilayahan diharapkan dapat memperkuat pendataan sekaligus memastikan keluarga yang membutuhkan memperoleh pendampingan.

Selain intervensi gizi, pemantauan pertumbuhan anak melalui posyandu dan puskesmas juga menjadi perhatian. Sebab, cakupan penimbangan balita atau D/S di Kota Pasuruan tercatat turun dari 76,3 persen pada Februari menjadi 72,3 persen pada Agustus.

Sherly menilai, partisipasi orang tua dalam membawa anak ke posyandu secara rutin penting untuk memantau pertumbuhan dan mendeteksi lebih awal risiko gangguan gizi. Dengan begitu, balita yang membutuhkan penanganan dapat segera ditindaklanjuti.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Pasuruan M. Nawawi meminta seluruh perangkat daerah, camat, dan lurah berperan aktif menyukseskan Grebek Stunting Tahap II. Ia juga mendorong RT/RW serta kader posyandu membantu menemukan balita yang membutuhkan intervensi, tetapi belum terdata.

“Jangan hanya terpaku pada 529 balita yang sudah masuk data. Kita perlu memastikan apakah masih ada balita lain yang membutuhkan bantuan, tetapi belum terjangkau,” tegas Nawawi.

Ia juga mengingatkan agar stigma stunting sebagai aib keluarga dihilangkan. Menurutnya, anggapan tersebut dapat membuat orang tua malu atau enggan terbuka mengenai kondisi anak sehingga menghambat penanganan.

Karena itu, edukasi mengenai pemenuhan gizi dan pola hidup sehat perlu terus dilakukan. Nawawi juga meminta petugas menyesuaikan strategi penjangkauan dengan kondisi masyarakat, termasuk mendatangi keluarga pada malam hari apabila orang tua sulit ditemui karena bekerja pada pagi atau siang hari.

Melalui Grebek Stunting Tahap II, Pemkot Pasuruan berharap penurunan prevalensi stunting dapat terus berlanjut. Penguatan pendataan, peningkatan partisipasi masyarakat di posyandu, serta intervensi gizi yang tepat sasaran diharapkan membantu memastikan setiap balita memperoleh perhatian sesuai kebutuhannya. (don/**)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.